Cara menulis artikel jurnal ilmiah yang paling sering dicoba adalah mulai dari judul, lalu pendahuluan, lalu terus ke bawah sampai kesimpulan. Hasilnya, banyak penulis macet di paragraf pertama karena pesan utama penelitiannya sendiri belum jelas. Panduan ini membahas proses menulis artikel jurnal dari awal sampai naskah final dengan urutan yang lebih masuk akal, mulai dari merumuskan pesan utama, memilih jurnal sasaran, menyusun kerangka, sampai revisi, pemeriksaan kemiripan, dan proofreading.
Artikel ini menjadi induk seri menulis artikel di blog Pelopor Publikasi. Setiap tahap dirangkum secara singkat, lalu ditautkan ke panduan yang lebih rinci. Bila Anda ingin melihat posisi tahap menulis dalam perjalanan publikasi secara keseluruhan, dari memilih jurnal sampai artikel terbit, baca juga panduan publikasi jurnal ilmiah yang menjadi induk seluruh blog ini.
Tulis artikel jurnal dengan urutan yang berbeda dari urutan bacanya. Rumuskan dulu pesan utama dan kebaruan penelitian, tetapkan jurnal sasaran, lalu susun kerangka berbasis IMRaD. Setelah itu tulis metode dan hasil lebih dulu, disusul pembahasan, pendahuluan, kesimpulan, lalu abstrak dan judul paling akhir. Naskah baru layak disebut final setelah melewati revisi mandiri, masukan rekan, pemeriksaan kemiripan, proofreading, dan penyesuaian dengan template jurnal.
Tim Pelopor Publikasi bisa membantu Anda memetakan pesan utama, jurnal sasaran, dan kerangka naskah sebelum mulai menulis.
Tahapan Cara Menulis Artikel Jurnal Ilmiah secara Ringkas
Proses menulis artikel bisa dibagi menjadi tiga fase besar. Fase perencanaan menentukan isi dan arah naskah. Fase penulisan mengubah kerangka menjadi draf. Fase penyempurnaan memastikan draf itu layak dibaca editor dan reviewer. Tabel berikut merangkum tahapannya beserta hasil yang sebaiknya sudah Anda pegang di akhir setiap tahap.
| Tahap | Yang dikerjakan | Hasil di akhir tahap |
|---|---|---|
| Pesan utama dan kebaruan | Merumuskan temuan inti dan apa yang baru dibanding penelitian sebelumnya | Satu atau dua kalimat pesan utama dan satu kalimat kebaruan |
| Jurnal sasaran | Memilih jurnal yang cakupannya cocok, lalu membaca pedoman penulisnya | Nama jurnal, template, struktur bagian, dan gaya sitasi yang diminta |
| Kerangka | Menyusun poin utama tiap bagian, rencana tabel dan gambar, serta referensi kunci | Kerangka IMRaD dalam bentuk butir |
| Draf pertama | Menulis metode, hasil, pembahasan, pendahuluan, kesimpulan, lalu abstrak dan judul | Naskah utuh walau belum rapi |
| Revisi dan masukan rekan | Memeriksa logika, struktur, dan kalimat, lalu meminta rekan membaca | Draf kedua dengan alur yang jelas |
| Pemeriksaan kemiripan | Mengecek kemiripan teks dan memperbaiki bagian yang terlalu dekat dengan sumber | Laporan kemiripan beserta perbaikannya |
| Proofreading dan finalisasi | Merapikan bahasa, menyesuaikan template, dan mencocokkan sitasi dengan daftar pustaka | Naskah final sesuai pedoman jurnal |
| Siap submit | Menyiapkan berkas pendukung, metadata, dan data semua penulis | Paket berkas lengkap untuk dikirim |
Urutan bisa sedikit bergeser sesuai kebiasaan Anda, tetapi pesan utama dan jurnal sasaran sebaiknya selalu ditetapkan sebelum draf ditulis.
Rumuskan Pesan Utama dan Kebaruan Lebih Dulu
Sebelum membuka template, coba jawab satu pertanyaan sederhana: apa satu hal yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca lewat artikel ini? Jawabannya adalah pesan utama. Pesan utama bukan topik, melainkan temuan atau argumen. “Literasi digital pelaku UMKM” adalah topik, sedangkan kalimat utuh tentang apa yang Anda temukan soal literasi digital pelaku UMKM adalah pesan.
Misalkan Anda meneliti pencatatan keuangan pelaku UMKM kuliner (contoh rekaan). Pesan utamanya bisa berbunyi begini: “pelaku UMKM kuliner yang rutin memakai aplikasi pencatatan sederhana lebih konsisten memisahkan uang usaha dan uang pribadi, tetapi pelatihan aplikasi saja tidak cukup tanpa pendampingan lanjutan.” Kalimat seperti ini langsung memberi arah bagi semua bagian naskah. Pendahuluan menjelaskan mengapa pertanyaan itu penting, metode menjelaskan cara Anda menjawabnya, hasil menyajikan buktinya, dan pembahasan menafsirkan maknanya.
Setelah itu, rumuskan kebaruannya. Kebaruan menjawab pertanyaan editor yang paling mendasar, yaitu apa yang belum diketahui sebelum penelitian ini dilakukan. Kebaruan tidak harus berupa teori baru. Konteks yang belum diteliti, kelompok partisipan yang berbeda, metode yang lebih tepat, atau data yang lebih mutakhir bisa menjadi kebaruan, asalkan celahnya bisa Anda tunjukkan lewat penelitian terdahulu. Tulis kebaruan itu dalam satu kalimat dan letakkan di bagian atas berkas kerja Anda, karena kalimat ini akan dipakai berulang kali saat menulis pendahuluan dan pembahasan.
Pesan utama juga membantu Anda memutuskan apa yang tidak perlu masuk ke artikel. Data skripsi, tesis, atau proyek penelitian sering memuat lebih banyak temuan daripada yang muat dalam satu artikel. Pilih temuan yang mendukung pesan utama dan simpan sisanya. Bila data memang cukup untuk dua artikel, pastikan masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda, karena memecah satu temuan menjadi beberapa artikel kecil dipandang kurang etis oleh banyak editor.
Bila pesan utama sulit dirumuskan, biasanya analisis data belum tuntas atau temuan belum Anda pahami betul. Lebih baik kembali ke data sebentar daripada memaksakan draf yang arahnya kabur.
Tetapkan Jurnal Sasaran Sejak Awal
Banyak penulis baru memilih jurnal setelah naskah selesai. Akibatnya, naskah harus dirombak karena cakupan jurnal tidak cocok, gaya sitasinya berbeda, atau jenis artikelnya tidak diterima. Menentukan jurnal sasaran sebelum menulis menghemat banyak pekerjaan ulang. Bagi dosen, pilihan ini juga terkait kebutuhan angka kredit, karena peringkat SINTA atau kuartil jurnal memengaruhi nilai artikel saat dinilai untuk kenaikan jabatan.
Saat memilih, perhatikan cakupan (focus and scope), jenis artikel yang diterima, bahasa, dan status indeksasi yang Anda butuhkan. Lalu baca pedoman penulis (Author Guidelines) dan catat hal yang langsung memengaruhi cara Anda menulis.
- Template naskah. Tidak ada satu template yang berlaku untuk semua jurnal. Unduh template terbaru dari situs jurnal sasaran dan menulislah langsung di dalamnya.
- Struktur bagian. Sebagian jurnal memisahkan hasil dan pembahasan, sebagian lain menggabungkannya. Ada pula yang meminta tinjauan pustaka sebagai bagian sendiri.
- Gaya sitasi. APA, IEEE, Vancouver, Harvard, atau Chicago, sesuai ketentuan jurnal.
- Batas panjang. Batas kata abstrak, jumlah kata kunci, dan panjang naskah ditentukan oleh masing-masing jurnal, bukan oleh aturan umum.
Luangkan waktu membaca beberapa artikel terbaru di jurnal tersebut. Perhatikan panjang pendahuluannya, cara penulis menyajikan tabel, dan jenis referensi yang dikutip. Artikel yang sudah terbit adalah contoh paling nyata tentang apa yang diterima redaksi jurnal itu.
Susun Kerangka Berbasis IMRaD
Untuk artikel hasil penelitian empiris, kerangka yang paling lazim adalah IMRaD, singkatan dari Introduction, Methods, Results, and Discussion. Struktur ini memisahkan alasan penelitian, cara meneliti, temuan, dan makna temuan, sehingga editor dan reviewer mudah menilai setiap bagian. Fungsi tiap bagian beserta variasinya dijelaskan di artikel struktur artikel ilmiah IMRaD. Artikel konseptual atau kajian pustaka bisa memakai struktur lain, jadi tetap ikuti pedoman jurnal.
Kerangka yang berguna tidak berhenti di nama bagian. Isi setiap bagian dengan butir poin yang konkret. Untuk penelitian UMKM rekaan tadi, kerangkanya kira-kira seperti ini.
- Pendahuluan. Masalah pencatatan keuangan UMKM kuliner, apa yang sudah diketahui dari penelitian terdahulu, celah yang belum terjawab, dan tujuan penelitian.
- Metode. Desain penelitian, cara memilih partisipan, instrumen, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis.
- Hasil. Profil partisipan, perbandingan kebiasaan mencatat, dan temuan wawancara tentang hambatan. Rencanakan satu tabel dan satu gambar.
- Pembahasan. Tafsiran temuan, perbandingan dengan penelitian terdahulu, implikasi bagi program pelatihan, dan keterbatasan.
- Kesimpulan. Jawaban atas tujuan penelitian dan saran yang lahir dari temuan.
Di setiap butir, cantumkan juga referensi kunci yang akan dipakai. Dengan begitu, Anda tidak perlu berhenti mencari sumber di tengah menulis.
Urutan Menulis yang Lebih Efisien
Urutan membaca artikel tidak sama dengan urutan terbaik untuk menulisnya. Banyak penulis berpengalaman memulai dari bagian yang paling konkret, lalu bergerak ke bagian yang membutuhkan sudut pandang paling luas. Urutan berikut biasanya bekerja dengan baik.
- Metode. Penelitiannya sudah Anda kerjakan, jadi bagian ini paling mudah ditulis karena tinggal menguraikan apa yang dilakukan.
- Hasil. Susun tabel dan gambar lebih dulu, lalu tulis narasi yang menyoroti temuan penting dari tabel dan gambar itu.
- Pembahasan. Setelah hasil jelas, Anda bisa menafsirkan maknanya dan membandingkannya dengan penelitian terdahulu.
- Pendahuluan. Kini Anda tahu persis apa yang ditemukan, sehingga pendahuluan bisa diarahkan tepat ke celah yang dijawab.
- Kesimpulan. Rumuskan jawaban atas tujuan penelitian tanpa menambah temuan baru.
- Abstrak dan judul. Keduanya meringkas seluruh naskah, jadi paling aman ditulis terakhir.
Urutan ini bukan aturan baku. Bila Anda lebih nyaman menulis pendahuluan lebih awal, silakan, asalkan pendahuluan itu ditinjau ulang setelah pembahasan selesai. Yang terpenting, pendahuluan dan pembahasan membicarakan hal yang sama. Pendahuluan yang menjanjikan satu hal sementara pembahasan membahas hal lain termasuk kelemahan yang paling mudah dikenali reviewer.
Diskusikan rencana atau draf naskah Anda dengan tim Pelopor Publikasi agar arah tulisan jelas sebelum Anda menulis lebih jauh.
Menulis Tiap Bagian Naskah secara Ringkas
Bagian ini merangkum inti setiap bagian naskah sesuai urutan menulis tadi. Untuk teknik yang lebih rinci dan contoh kalimatnya, ikuti tautan ke panduan khusus masing-masing.
Metode penelitian
Bagian metode membuat pembaca bisa menilai, bahkan mengulang, penelitian Anda. Jelaskan desain penelitian, populasi dan sampel atau partisipan, instrumen, prosedur pengumpulan data, teknik analisis, dan persetujuan etik bila diperlukan. Hindari uraian teori metodologi yang panjang dan fokus pada apa yang benar-benar Anda lakukan. Komponen lengkap dan pertanyaan reviewer yang biasa muncul dibahas di panduan cara menulis metode penelitian.
Hasil dan pembahasan
Hasil menyajikan temuan secara objektif, sedangkan pembahasan menjelaskan maknanya. Di bagian hasil, biarkan tabel dan gambar membawa data, sementara teks menyoroti pola yang penting. Di bagian pembahasan, jawab pertanyaan “lalu apa artinya”, bandingkan dengan penelitian terdahulu, sebutkan implikasi, dan akui keterbatasan. Kesalahan yang paling sering adalah pembahasan yang hanya mengulang angka dari hasil. Cara menghindarinya ada di panduan cara menulis hasil dan pembahasan.
Pendahuluan
Pendahuluan bergerak dari konteks yang luas menuju masalah yang spesifik, menunjukkan celah penelitian, lalu ditutup dengan tujuan. Pembaca perlu tahu sejak awal mengapa penelitian ini penting dan apa yang baru darinya. Pendahuluan yang terlalu lama membahas definisi umum sering membuat editor kehilangan minat sebelum sampai ke celah penelitian. Pola paragraf yang bisa Anda tiru ada di panduan menulis pendahuluan jurnal.
Tinjauan pustaka
Sebagian jurnal meminta tinjauan pustaka sebagai bagian tersendiri, sebagian lain cukup memadukannya di pendahuluan. Apa pun bentuknya, tinjauan pustaka di artikel jurnal bukan ringkasan sumber satu per satu seperti di skripsi. Tugasnya membangun argumen bahwa celah penelitian Anda nyata, dengan cara mengelompokkan dan membandingkan temuan penelitian terdahulu. Teknik sintesisnya dijelaskan di artikel cara menulis tinjauan pustaka.
Kesimpulan
Kesimpulan menjawab tujuan penelitian secara langsung. Tulis jawabannya dengan bahasa yang lugas, tambahkan implikasi atau saran yang lahir dari temuan, dan jangan memasukkan data, kutipan, atau temuan yang belum muncul di bagian sebelumnya. Bila pendahuluan menyebut tiga tujuan, kesimpulan sebaiknya menjawab ketiganya.
Abstrak, kata kunci, dan judul
Ketiganya ditulis terakhir karena meringkas seluruh naskah. Abstrak umumnya memuat latar dan masalah, tujuan, metode, hasil utama, serta kesimpulan atau implikasi. Kata kunci membantu artikel ditemukan di mesin pencari dan basis data. Judul sebaiknya spesifik dan mencerminkan variabel, konteks, atau temuan utama. Batas kata abstrak dan jumlah kata kunci berbeda di tiap jurnal, jadi selalu cek pedomannya. Contoh abstrak utuh bisa Anda lihat di panduan cara menulis abstrak jurnal.
Daftar pustaka
Gaya sitasi selalu mengikuti pedoman jurnal sasaran. Yang umum dipakai antara lain APA (edisi terbarunya adalah edisi ketujuh), IEEE yang bernomor dan lazim di bidang teknik, Vancouver yang juga bernomor dan lazim di kedokteran serta kesehatan, Harvard, dan Chicago. Pakai pengelola referensi seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote sejak awal menulis, bukan setelah naskah selesai, agar setiap sitasi di teks punya pasangan di daftar pustaka. Format tiap gaya dibahas di panduan cara menulis daftar pustaka.
Menjaga Draf Pertama Tetap Bergerak
Tugas draf pertama sederhana, yaitu ada. Banyak naskah berhenti di tengah jalan bukan karena penulisnya kurang paham, melainkan karena ia mencoba menulis dan menyunting sekaligus. Beberapa kebiasaan berikut membantu draf terus maju.
- Pisahkan waktu menulis dan menyunting. Saat menulis draf, biarkan kalimat yang belum sempurna. Penyuntingan punya tahapnya sendiri.
- Tandai yang belum lengkap, lalu lanjutkan. Bila butuh angka, sumber, atau istilah yang belum pasti, beri penanda seperti [CEK] dan teruskan menulis. Bereskan semua penanda itu di akhir sesi.
- Mulai bagian hasil dari tabel dan gambar. Tabel dan gambar yang sudah jadi membuat narasi hasil jauh lebih mudah ditulis.
- Akhiri sesi di bagian yang sudah jelas arahnya. Anda akan lebih mudah memulai lagi karena sudah tahu kalimat berikutnya.
- Jangan menunda karena merasa kurang membaca. Membaca tetap perlu, tetapi kerangka yang sudah memuat referensi kunci biasanya cukup untuk mulai menulis.
Revisi Mandiri dan Masukan Rekan
Draf pertama hampir tidak pernah siap dikirim. Endapkan naskah sejenak sebelum merevisinya supaya Anda membaca dengan mata yang lebih segar. Lalu revisi dari tingkat yang paling besar ke yang paling kecil.
- Substansi. Apakah pesan utama tampak jelas? Apakah tujuan di pendahuluan, temuan di hasil, dan jawaban di kesimpulan saling cocok?
- Struktur. Apakah setiap paragraf membahas satu gagasan? Tulis satu kalimat ringkasan untuk tiap paragraf di catatan terpisah. Bila urutan ringkasan itu tidak runtut, susun ulang paragrafnya.
- Kalimat. Pangkas kalimat yang terlalu panjang, istilah yang tidak konsisten, dan pengulangan yang tidak perlu.
Setelah revisi mandiri, minta rekan membaca naskah. Bila memungkinkan, pilih satu rekan sebidang untuk menilai substansi dan satu pembaca dari bidang lain untuk menilai kejelasan. Beri mereka pertanyaan yang spesifik, misalnya bagian mana yang paling sulit dipahami atau apakah celah penelitiannya meyakinkan. Permintaan yang terlalu umum biasanya hanya menghasilkan komentar yang umum pula.
Bila naskah ditulis bersama, sepakati sejak tahap ini urutan penulis dan siapa penulis korespondensi. Untuk keperluan kenaikan jabatan dosen, posisi sebagai penulis pertama atau penulis korespondensi bisa menjadi syarat, sehingga hal ini sebaiknya tidak dibiarkan sampai menit terakhir.
Periksa Kemiripan Teks Sebelum Dikirim
Banyak jurnal memeriksa kemiripan naskah di tahap awal dengan perangkat seperti Turnitin atau iThenticate. Naskah yang kemiripannya dinilai terlalu tinggi bisa dikembalikan sebelum sampai ke reviewer. Batas yang dianggap wajar tidak sama di semua tempat karena ditentukan oleh jurnal atau kampus masing-masing, jadi cek ketentuan jurnal sasaran Anda, bukan angka yang beredar dari mulut ke mulut.
Saat membaca laporan kemiripan, lihat bagian dan sumber yang ditandai, bukan hanya angka totalnya. Kemiripan pada istilah teknis atau nama instrumen biasanya wajar. Yang perlu diperbaiki adalah kalimat yang disalin tanpa kutipan, parafrase yang terlalu dekat dengan sumber, dan potongan tulisan Anda sendiri yang sudah terbit tanpa pengakuan. Bila naskah berasal dari skripsi, tesis, atau disertasi yang sudah ada di repositori kampus, tanyakan kebijakan jurnal dan nyatakan asal naskah bila diminta. Perbaikan yang benar, bukan sekadar mengganti kata dengan sinonim, dibahas di panduan cara menurunkan plagiarisme.
Proofreading dan Finalisasi Sesuai Template
Proofreading adalah pemeriksaan bahasa dan ketelitian di tahap akhir: ejaan, tata bahasa, tanda baca, konsistensi istilah, serta kecocokan nomor tabel dan gambar dengan rujukannya di teks. Tahap ini berbeda dari revisi substansi. Jangan melakukan proofreading ketika isi naskah masih mungkin berubah besar, karena pekerjaan itu akan terulang.
Untuk naskah berbahasa Inggris, pemeriksaan oleh rekan yang fasih atau penyunting bahasa berpengalaman sering membuat perbedaan besar pada keterbacaan. Bila tidak ada rekan yang bisa membantu, Anda bisa mempertimbangkan layanan proofreading naskah jurnal yang terbiasa dengan gaya penulisan akademik. Setelah bahasa rapi, cocokkan naskah dengan template dan pedoman jurnal sekali lagi.
- Format halaman, jenis dan ukuran huruf, serta penomoran bagian sesuai template.
- Tabel dan gambar terbaca jelas, bernomor urut, dan semuanya dirujuk di teks.
- Setiap sitasi di teks ada di daftar pustaka, dan sebaliknya.
- Nama, afiliasi, dan email semua penulis lengkap serta konsisten.
- Versi anonim sudah disiapkan bila jurnal memakai review buta.
Kirim naskah ke satu jurnal pada satu waktu. Mengirim naskah yang sama ke beberapa jurnal sekaligus melanggar etika publikasi dan bisa merugikan Anda di semua jurnal tersebut. Tunggu keputusan atau tarik naskah secara resmi sebelum mengirimnya ke jurnal lain.
Naskah Final Siap Dikirim
Naskah final adalah naskah yang pesannya jelas, strukturnya sesuai pedoman jurnal, bahasanya rapi, kemiripannya sudah diperiksa, dan berkas pendukungnya lengkap. Sebelum mengirim, siapkan juga metadata dalam teks polos, yaitu judul, abstrak, kata kunci, data semua penulis, dan daftar referensi, karena semuanya akan diminta di formulir submit. Bila jurnal sasaran memakai OJS, ikuti panduan cara submit artikel ke OJS agar tidak ada isian yang terlewat.
Setelah naskah terkirim, prosesnya berada di tangan editor dan reviewer, dan lama review berbeda di tiap jurnal. Gunakan waktu tunggu untuk menyiapkan diri menghadapi revisi, karena permintaan perbaikan adalah bagian yang wajar dari proses review, bukan tanda naskah Anda gagal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagian mana yang sebaiknya ditulis lebih dulu?
Banyak penulis memulai dari metode dan hasil karena keduanya paling konkret, lalu menulis pembahasan, pendahuluan, dan kesimpulan. Abstrak dan judul ditulis paling akhir karena meringkas seluruh naskah. Urutan ini tidak wajib, tetapi membantu Anda menulis pendahuluan yang tepat sasaran.
Apakah skripsi atau tesis bisa langsung dijadikan artikel jurnal?
Bisa menjadi bahan, tetapi tidak bisa langsung dipindahkan. Artikel jurnal jauh lebih ringkas dan berfokus pada satu pesan utama, sehingga Anda perlu memilih temuan terpenting, memangkas uraian teori yang panjang, dan menulis ulang sesuai template jurnal. Bila naskah aslinya sudah ada di repositori kampus, tanyakan kebijakan jurnal dan nyatakan asal naskah bila diminta.
Apakah tinjauan pustaka harus menjadi bagian tersendiri?
Tergantung pedoman jurnal. Sebagian jurnal meminta bagian tinjauan pustaka atau kajian teori tersendiri, sedangkan jurnal lain cukup memadukannya di pendahuluan. Periksa Author Guidelines dan beberapa artikel terbaru jurnal sasaran untuk melihat pola yang dipakai.
Berapa batas kemiripan teks yang aman?
Tidak ada satu angka yang berlaku umum. Batas kemiripan ditentukan oleh jurnal atau kampus masing-masing. Selain angka total, editor juga melihat bagian mana yang mirip, jadi perbaiki kalimat yang disalin atau diparafrasekan terlalu dekat dengan sumber meski angka totalnya tampak rendah.
Apakah artikel jurnal harus ditulis dalam bahasa Inggris?
Tidak selalu. Bahasa artikel mengikuti ketentuan jurnal sasaran. Banyak jurnal nasional menerima naskah berbahasa Indonesia, sedangkan jurnal internasional umumnya meminta bahasa Inggris. Bila menulis dalam bahasa Inggris, sisihkan waktu untuk proofreading agar bahasa tidak menghalangi reviewer memahami isi naskah.
Berapa jumlah referensi yang dibutuhkan dalam artikel jurnal?
Tidak ada jumlah yang berlaku untuk semua jurnal. Sebagian jurnal mencantumkan jumlah minimal referensi atau proporsi sumber dari artikel jurnal di pedoman penulisnya, sementara jurnal lain tidak mengaturnya. Yang selalu dinilai adalah relevansi dan kemutakhiran sumber, jadi utamakan artikel jurnal terbaru yang benar-benar berkaitan dengan penelitian Anda.
Ceritakan kondisi naskah dan jurnal sasaran Anda. Tim Pelopor Publikasi akan membantu memetakan bagian yang perlu dibenahi sebelum naskah dikirim.
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.






