Cara menulis abstrak jurnal yang baik berangkat dari satu kenyataan sederhana: abstrak adalah bagian yang paling sering dibaca, dan bagi banyak orang menjadi satu-satunya bagian yang mereka baca. Editor memakainya untuk menilai kecocokan naskah dengan jurnal, reviewer membacanya sebelum memutuskan menerima undangan menelaah, dan pembaca di mesin pencari menentukan dari abstrak apakah artikel Anda layak diunduh.
Panduan ini membahas lima elemen abstrak beserta contoh kalimatnya, satu contoh abstrak utuh dari penelitian rekaan, bentuk terstruktur dan tidak terstruktur, versi bahasa Inggris, pemilihan kata kunci, serta kesalahan yang paling sering membuat abstrak terlihat lemah.
Abstrak yang baik memuat lima elemen secara berurutan, yaitu latar dan masalah, tujuan, metode, hasil utama, serta kesimpulan atau implikasi. Tulis abstrak paling akhir, setelah seluruh artikel selesai, supaya isinya sesuai dengan naskah final. Batasi latar belakang menjadi satu atau dua kalimat, sebutkan hasil secara konkret termasuk angka penting, jangan mencantumkan sitasi, dan patuhi batas kata serta format yang ditetapkan pedoman jurnal sasaran.
Tim Pelopor Publikasi bisa membantu meninjau abstrak dan naskah Anda supaya lima elemen pentingnya tampil jelas sebelum dikirim ke jurnal.
Fungsi Abstrak bagi Editor, Reviewer, dan Pembaca
Dalam proses publikasi, abstrak bekerja untuk tiga kelompok pembaca dengan kepentingan berbeda.
- Editor. Pada tahap penyaringan awal, editor membaca judul dan abstrak untuk menilai apakah topik sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal, serta apakah naskah cukup jelas untuk diteruskan ke reviewer. Abstrak yang kabur bisa membuat naskah dikembalikan lebih awal.
- Reviewer. Undangan menelaah biasanya disertai judul dan abstrak. Calon reviewer memutuskan bersedia atau tidak berdasarkan informasi itu, sehingga abstrak yang jelas memudahkan editor mendapatkan reviewer yang sesuai.
- Pembaca dan basis data. Di Google Scholar, situs jurnal, maupun basis data pengindeks, yang tampil pertama adalah judul dan abstrak. Pada jurnal berbasis OJS, abstrak juga diisi sebagai metadata saat submit, sehingga ikut terbaca oleh mesin pencari.
Karena itu, abstrak harus bisa berdiri sendiri. Orang yang hanya membaca abstrak tetap perlu memahami apa yang Anda teliti, bagaimana caranya, apa temuannya, dan mengapa temuan itu penting. Abstrak juga sebaiknya ditulis paling akhir, setelah semua bagian artikel rampung. Bila naskah Anda masih dalam tahap awal, ikuti dulu alur pada panduan cara menulis artikel jurnal ilmiah, lalu kembali ke abstrak di tahap akhir.
Lima Elemen dalam Cara Menulis Abstrak Jurnal
Lima elemen berikut pada dasarnya adalah versi mini dari keseluruhan artikel. Bila naskah Anda memakai pola struktur artikel IMRaD, abstrak akan mengikuti urutan yang sama, yaitu dari alasan penelitian ke cara, lalu ke temuan, dan berakhir pada makna temuan itu.
| Elemen | Fungsinya | Contoh Kalimat (Rekaan) |
|---|---|---|
| Latar dan masalah | Menunjukkan masalah yang mendorong penelitian, cukup satu atau dua kalimat | “Umpan balik dosen pada tugas menulis sering berupa koreksi tata bahasa sehingga mahasiswa kesulitan memperbaiki struktur argumen.” |
| Tujuan | Menyatakan apa yang ingin diketahui atau diuji | “Penelitian ini menguji pengaruh umpan balik tertulis berbasis rubrik terhadap kemampuan menulis esai argumentatif mahasiswa.” |
| Metode | Menyebut desain, partisipan atau sumber data, instrumen, dan teknik analisis secara padat | “Penelitian kuasi eksperimen ini melibatkan 64 mahasiswa dari dua kelas, dan data tes menulis dianalisis dengan ANCOVA.” |
| Hasil utama | Menyajikan temuan terpenting, sebisa mungkin dengan angka | “Kelompok eksperimen memperoleh rata-rata skor pascates 78,6, lebih tinggi daripada kelompok kontrol (71,2).” |
| Kesimpulan atau implikasi | Menjelaskan makna temuan dan siapa yang bisa memanfaatkannya | “Temuan ini menunjukkan bahwa rubrik dapat membantu dosen mengarahkan umpan balik pada struktur argumen.” |
Semua contoh kalimat diambil dari penelitian rekaan yang juga dipakai pada contoh abstrak utuh di bagian berikutnya. Angka di dalamnya bukan data nyata.
Latar dan masalah, cukup satu atau dua kalimat
Kesalahan paling umum adalah membuka abstrak dengan latar belakang yang panjang. Langsung sebut masalah spesifik yang Anda teliti. Kalimat seperti “Pendidikan merupakan faktor penting dalam kemajuan bangsa” tidak memberi informasi apa pun tentang penelitian Anda dan sebaiknya dibuang.
Tujuan yang sejalan dengan judul
Rumuskan tujuan dengan kata kerja yang tegas, seperti menguji, menganalisis, membandingkan, atau mengidentifikasi. Pastikan tujuan di abstrak sama dengan tujuan di akhir pendahuluan dan sejalan dengan judul. Reviewer akan cepat melihat bila ketiganya tidak sinkron.
Metode yang padat tapi lengkap
Sebutkan pendekatan atau desain, partisipan atau sumber data beserta jumlahnya, instrumen atau teknik pengumpulan data, dan teknik analisis. Pada penelitian kualitatif, sebutkan misalnya jumlah informan, cara pengumpulan data seperti wawancara mendalam, dan teknik analisis seperti analisis tematik.
Hasil utama yang konkret
Bagian ini sering paling lemah. Kalimat “Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan” belum menjawab seberapa besar pengaruhnya dan ke arah mana. Tampilkan angka kunci dari data Anda sendiri, seperti nilai rata-rata, koefisien, atau persentase. Pada penelitian kualitatif, sebutkan tema utama yang ditemukan, jangan hanya menyatakan bahwa sejumlah tema telah teridentifikasi.
Kesimpulan atau implikasi
Tutup dengan satu atau dua kalimat yang menjawab pertanyaan “lalu apa?”. Sebutkan makna temuan bagi teori, praktik, atau kebijakan, dan bila perlu satu arah penelitian lanjutan. Hindari klaim yang lebih besar daripada data, misalnya menyimpulkan efek untuk semua perguruan tinggi dari sampel dua kelas.
Konsultasikan draf Anda dengan tim Pelopor Publikasi. Kami bantu memeriksa kelengkapan elemen abstrak dan kesesuaiannya dengan jurnal sasaran.
Contoh Abstrak Utuh dari Penelitian Rekaan
Contoh berikut sengaja dibuat dari penelitian rekaan untuk keperluan ilustrasi. Judul, data, angka, dan hasilnya tidak berasal dari penelitian nyata. Perhatikan bagaimana kelima elemen tersusun dalam satu paragraf tanpa sitasi.
Judul (rekaan): Umpan Balik Tertulis Berbasis Rubrik dan Kemampuan Menulis Esai Argumentatif Mahasiswa
Umpan balik dosen pada tugas menulis mahasiswa sering berfokus pada koreksi tata bahasa sehingga mahasiswa kesulitan memperbaiki struktur argumen. Penelitian ini menguji pengaruh umpan balik tertulis berbasis rubrik terhadap kemampuan menulis esai argumentatif mahasiswa pendidikan bahasa Inggris. Penelitian kuasi eksperimen dengan desain kelompok kontrol prates dan pascates ini melibatkan 64 mahasiswa dari dua kelas paralel. Kelompok eksperimen menerima umpan balik berbasis rubrik analitik selama delapan pertemuan, sedangkan kelompok kontrol menerima umpan balik konvensional. Esai dinilai oleh dua penilai, lalu data dianalisis dengan ANCOVA menggunakan skor prates sebagai kovariat. Kelompok eksperimen memperoleh rata-rata skor pascates 78,6, lebih tinggi daripada kelompok kontrol (71,2), dan perbedaan ini signifikan, F(1, 61) = 9,84, p < 0,01. Peningkatan terbesar terjadi pada aspek organisasi gagasan dan penggunaan bukti, sedangkan aspek tata bahasa tidak berbeda signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa rubrik dapat membantu dosen mengarahkan umpan balik pada struktur argumen. Penelitian lanjutan perlu menguji efeknya dalam jangka lebih panjang dan pada jenis tulisan lain.
Kata kunci: esai argumentatif; menulis akademik; rubrik analitik; umpan balik tertulis
Kalimat pertama contoh di atas adalah latar dan masalah, kalimat kedua adalah tujuan. Tiga kalimat berikutnya menjelaskan metode secara padat, mulai dari desain dan partisipan, perlakuan, sampai penilaian dan analisis. Dua kalimat setelahnya menyajikan hasil lengkap dengan angka dan rincian aspek. Dua kalimat terakhir berisi implikasi dan arah penelitian lanjutan. Porsi terbesar ada pada metode dan hasil, bukan pada latar belakang. Perhatikan juga bahwa kata kunci “menulis akademik” tidak ada di judul. Istilah yang lebih luas itu ditambahkan supaya artikel ikut ditemukan oleh orang yang mencari topik umum.
Abstrak Terstruktur dan Tidak Terstruktur
Ada dua bentuk abstrak yang lazim. Abstrak tidak terstruktur ditulis sebagai satu paragraf utuh seperti contoh di atas. Bentuk ini umum dijumpai di jurnal pendidikan, ilmu sosial, ekonomi, dan humaniora.
Abstrak terstruktur memecah isi menjadi beberapa subjudul, misalnya Latar Belakang, Tujuan, Metode, Hasil, dan Kesimpulan, atau dalam bahasa Inggris Background, Objective, Methods, Results, dan Conclusion. Bentuk ini sering diminta jurnal kedokteran dan kesehatan. Sebagian penerbit internasional di bidang manajemen dan bisnis memakai label lain, seperti Purpose, Design/methodology/approach, Findings, serta Originality/value. Isinya tetap lima elemen yang sama, hanya diberi label.
Jangan memilih bentuk sendiri. Bentuk abstrak, batas jumlah kata, dan jumlah kata kunci selalu mengikuti pedoman penulis (author guidelines) dan template jurnal sasaran. Bila pedoman tidak menyebut bentuknya, lihat abstrak artikel yang terbit di nomor terbaru jurnal tersebut dan ikuti polanya.
Menulis Abstrak dalam Bahasa Inggris
Banyak jurnal nasional meminta abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sedangkan jurnal internasional umumnya hanya meminta versi bahasa Inggris. Versi bahasa Inggris dibaca oleh editor dan reviewer dari berbagai negara serta tampil di basis data internasional, jadi kualitasnya perlu diperhatikan.
- Jangan menerjemahkan kata per kata. Terjemahan mesin boleh dipakai sebagai draf awal, tetapi hasilnya perlu disunting manual. Frasa “This research aims to know” adalah terjemahan harfiah dari “bertujuan untuk mengetahui”. Pilihan yang lebih wajar adalah “This study examines” atau “This study aims to investigate”.
- Perhatikan kala (tense). Konvensi yang umum dipakai adalah past tense untuk metode dan hasil (“Data were collected”, “The experimental group scored higher”), serta present tense untuk kesimpulan dan pengetahuan yang sudah mapan (“These findings suggest”). Ikuti kebiasaan jurnal sasaran bila berbeda.
- Jaga istilah tetap konsisten. Satu konsep cukup satu padanan. Bila Anda memakai “written feedback” di abstrak, jangan berganti menjadi “written comments” di bagian lain naskah.
- Pastikan isinya identik. Versi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris harus memuat informasi yang sama, termasuk angka. Setiap kali naskah direvisi, perbarui keduanya sekaligus.
Cara Memilih Kata Kunci
Kata kunci membantu mesin pencari dan basis data mengelompokkan artikel Anda. Jumlahnya ditentukan pedoman jurnal, begitu pula pemisahnya (koma atau titik koma) dan urutannya. Selebihnya, gunakan pertimbangan berikut.
- Pakai istilah yang benar-benar dicari orang di bidang Anda. Coba ketik calon kata kunci di Google Scholar dan lihat apakah hasilnya artikel yang dekat dengan topik Anda.
- Gabungkan istilah spesifik dan istilah yang lebih luas. Pada contoh abstrak di atas, “rubrik analitik” adalah istilah spesifik, sedangkan “menulis akademik” adalah istilah yang lebih luas.
- Pertimbangkan istilah yang belum ada di judul. Judul sudah terbaca mesin pencari. Sinonim atau konsep terkait di kata kunci memperluas peluang artikel ditemukan.
- Gunakan frasa pendek, bukan kalimat. Frasa yang ringkas lebih mudah dicocokkan dengan kata yang diketik pembaca. Hindari singkatan yang tidak umum.
- Cek kosakata baku di bidang Anda. Bidang kesehatan, misalnya, mengenal MeSH (Medical Subject Headings) sebagai daftar istilah baku untuk pengindeksan.
Kesalahan Umum saat Menulis Abstrak
Berikut kesalahan yang paling sering kami temui pada abstrak naskah dosen dan mahasiswa pascasarjana.
- Latar belakang terlalu panjang. Separuh abstrak habis untuk menjelaskan pentingnya topik, sementara hasil hanya mendapat satu kalimat. Latar belakang yang lengkap tempatnya di bagian pendahuluan jurnal, bukan di abstrak.
- Hasil tanpa angka atau rincian. Pernyataan “terdapat pengaruh signifikan” tanpa besaran, arah, atau temuan utama membuat abstrak tidak informatif.
- Mengutip referensi. Abstrak umumnya ditulis tanpa sitasi karena harus bisa dibaca terpisah dari daftar pustaka. Bila perlu menyebut suatu teori, sebut namanya saja, kecuali pedoman jurnal mengatur lain.
- Informasi yang tidak ada di badan artikel. Abstrak tidak boleh memuat temuan atau klaim yang tidak dibahas di naskah.
- Abstrak tidak diperbarui setelah revisi. Angka atau kesimpulan sering berubah setelah review, jadi periksa ulang abstrak setiap kali naskah direvisi.
- Melebihi batas kata. Editor bisa mengembalikan naskah yang tidak mematuhi pedoman, termasuk batas kata abstrak.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan sebaiknya abstrak ditulis?
Tulis abstrak paling akhir, setelah pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan selesai. Dengan begitu isi abstrak sesuai dengan naskah final. Anda boleh membuat draf kasar di awal sebagai penunjuk arah, tetapi tulis ulang setelah naskah rampung.
Berapa jumlah kata abstrak yang ideal?
Tidak ada angka yang berlaku untuk semua jurnal. Batas kata abstrak dan jumlah kata kunci ditetapkan pedoman penulis masing-masing jurnal, jadi selalu cek author guidelines dan template jurnal sasaran sebelum menulis.
Bolehkah mencantumkan sitasi di abstrak?
Umumnya tidak. Abstrak harus bisa dibaca tanpa daftar pustaka, sehingga sitasi sebaiknya dihindari. Ikuti pedoman jurnal bila ada aturan khusus.
Apakah abstrak bahasa Inggris boleh dibuat dengan mesin penerjemah?
Boleh sebagai draf awal, tetapi hasilnya wajib disunting. Terjemahan mesin sering menghasilkan frasa harfiah, istilah yang tidak konsisten, dan kala yang kurang tepat. Bila ragu, minta rekan yang mahir berbahasa Inggris akademik untuk membacanya.
Apa bedanya abstrak dengan kesimpulan?
Abstrak merangkum seluruh artikel, mulai dari masalah, tujuan, metode, hasil, sampai implikasi. Kesimpulan menjawab tujuan penelitian berdasarkan hasil dan pembahasan, biasanya disertai saran. Keduanya tidak boleh berupa salinan satu sama lain.
Tim Pelopor Publikasi siap mendampingi Anda meninjau abstrak, merapikan naskah, dan memilih jurnal yang sesuai dengan topik penelitian Anda.
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.








