Cara Menulis Hasil dan Pembahasan Tanpa Mencampur Keduanya

Cara Menulis Hasil dan Pembahasan Tanpa Mencampur Keduanya

Comments
10 min read
Beranda » Cara Menulis Hasil dan Pembahasan Tanpa Mencampur Keduanya

Cara menulis hasil dan pembahasan yang baik dimulai dari memisahkan dua pertanyaan. Bagian hasil menjawab “apa yang ditemukan”, sedangkan pembahasan menjawab “apa artinya”. Masalah muncul ketika keduanya bercampur: paragraf hasil penuh tafsiran dan kutipan, lalu pembahasan hanya mengulang angka yang sama dengan kalimat lain. Reviewer biasanya cepat menangkap pola ini dan menuliskannya sebagai komentar “pembahasan kurang mendalam”.

Artikel ini membahas beda fungsi kedua bagian, cara menyajikan hasil dengan tabel dan gambar tanpa mengulang angka, struktur pembahasan yang lazim, contoh paragraf dari penelitian rekaan, kapan keduanya boleh digabung, dan kesalahan yang umum terjadi. Bila Anda masih menyusun kerangka naskah secara keseluruhan, baca dulu panduan struktur artikel ilmiah IMRaD.

Jawaban Singkat

Hasil berisi temuan apa adanya, disusun mengikuti urutan tujuan penelitian, dengan tabel atau gambar sebagai tempat angka dan teks yang menyoroti pola utamanya. Pembahasan menafsirkan temuan itu: menegaskan temuan utama, membandingkannya dengan penelitian sebelumnya, menjelaskan penyebabnya, menarik implikasi, dan mengakui keterbatasan. Bila jurnal menggabungkan keduanya dalam satu bagian, logika pemisahan ini tetap dipakai di setiap subbagian.

Reviewer menilai pembahasan Anda kurang mendalam?

Kirimkan draf hasil dan pembahasan Anda. Kami bantu memisahkan temuan dari tafsiran dan menguatkan argumen pembahasannya.

Minta Masukan Naskah

Cara Menulis Hasil dan Pembahasan Dimulai dari Beda Fungsinya

Bayangkan hasil sebagai keterangan saksi dan pembahasan sebagai analisis ahli. Saksi menceritakan apa yang terlihat tanpa menebak motif. Ahli menafsirkan kejadian itu dengan bekal pengetahuan dan bukti lain. Keduanya penting, tetapi perannya tidak boleh tertukar. Tabel berikut merangkum perbedaannya.

Aspek Hasil Pembahasan
Pertanyaan yang dijawab Apa yang ditemukan? Apa artinya, mengapa terjadi, dan apa konsekuensinya?
Isi utama Data, hasil uji statistik, tema, kutipan partisipan Tafsiran, perbandingan, penjelasan, implikasi, keterbatasan
Rujukan pustaka Umumnya tidak ada, kecuali untuk menyebut prosedur Banyak, untuk membandingkan dan menjelaskan temuan
Tabel dan gambar Tempat utama penyajian angka Jarang, cukup merujuk tabel atau gambar di bagian hasil
Gaya kalimat Deskriptif dan faktual Argumentatif, dengan kata yang hati-hati seperti “kemungkinan” atau “mengindikasikan”
Contoh kalimat “Nilai kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol.” “Perbedaan ini kemungkinan berkaitan dengan umpan balik yang diberikan setelah kuis.”

Bila jurnal menggabungkan hasil dan pembahasan, kedua kolom tetap berlaku, hanya letaknya berurutan dalam satu subbagian.

Menyusun Bagian Hasil

Urutkan hasil mengikuti tujuan penelitian

Susun hasil dengan urutan yang sama dengan tujuan atau pertanyaan penelitian di pendahuluan, dan sedapat mungkin sama dengan urutan analisis di bagian metode. Umumnya hasil dibuka dengan gambaran singkat responden atau partisipan, lalu berlanjut ke jawaban untuk tujuan pertama, kedua, dan seterusnya. Dengan urutan ini, reviewer bisa memeriksa satu per satu bahwa setiap tujuan sudah terjawab.

Laporkan hanya hasil yang relevan dengan tujuan. Data tambahan yang menarik tetapi tidak menjawab pertanyaan penelitian lebih baik disimpan, atau dimasukkan ke lampiran bila jurnal menyediakannya. Sebaliknya, hasil yang tidak signifikan atau tidak sesuai hipotesis tetap dilaporkan, karena itu juga temuan.

Biarkan tabel dan gambar memuat angka

Kesalahan yang sangat umum adalah menyalin isi tabel ke dalam paragraf. Bila Tabel 2 sudah memuat rata-rata, simpangan baku, dan hasil uji untuk enam variabel, paragraf di bawahnya tidak perlu menyebut keenamnya lagi. Teks cukup merujuk tabel dan menyoroti pola terpenting, misalnya variabel dengan skor tertinggi, perbedaan yang signifikan, atau tren yang terlihat.

Pilih tabel bila pembaca perlu melihat nilai yang tepat, dan pilih gambar bila yang ingin ditonjolkan adalah pola, tren, atau perbandingan visual. Jangan menampilkan data yang sama dalam tabel dan gambar sekaligus. Setiap tabel dan gambar diberi nomor dan judul, dirujuk di teks, dan sebaiknya bisa dipahami tanpa membaca paragrafnya, termasuk keterangan singkatan di bawahnya. Format penomoran dan letak judul mengikuti pedoman jurnal.

Untuk hasil kuantitatif, laporkan informasi yang dibutuhkan pembaca untuk menilai temuan, bukan hanya keterangan “signifikan” atau “tidak signifikan”. Umumnya itu berarti nilai statistik uji, derajat kebebasan, nilai p, dan ukuran efek, dengan format yang mengikuti gaya selingkung jurnal, misalnya gaya APA. Gunakan jumlah angka desimal yang konsisten, dan pastikan setiap angka di teks sama persis dengan angka di tabel.

Hasil penelitian kualitatif

Pada penelitian kualitatif, hasil biasanya disajikan per tema. Setiap tema dijelaskan singkat, lalu didukung kutipan partisipan yang paling mewakili beserta kode partisipan, misalnya P3 atau Guru B. Hindari menumpuk banyak kutipan panjang tanpa penjelasan. Hati-hati pula dengan kata kuantitas seperti “sebagian besar partisipan”; pakai hanya bila memang didukung data. Tafsiran tentang mengapa tema itu muncul disimpan untuk pembahasan, kecuali jurnal memakai format gabungan.

Hasil sudah ada, tetapi bingung menyusun pembahasannya?

Diskusikan temuan Anda bersama kami. Kami bantu memetakan temuan utama, rujukan pembanding, dan implikasinya sebelum Anda mulai menulis.

Konsultasi Gratis via WhatsApp

Struktur Pembahasan dalam Lima Bagian

Pembahasan yang kuat bergerak dari temuan utama menuju arti yang lebih luas. Urutan berikut lazim dipakai, meski porsinya bisa disesuaikan dengan jurnal dan bidang Anda.

  1. Temuan utama. Buka dengan satu atau dua kalimat yang menjawab pertanyaan penelitian secara langsung, tanpa mengulang seluruh angka.
  2. Perbandingan dengan penelitian sebelumnya. Tunjukkan bagian yang sejalan dan bagian yang berbeda dari studi terdahulu, terutama yang sudah Anda kutip di pendahuluan.
  3. Penjelasan. Uraikan kemungkinan penyebab temuan, termasuk perbedaan konteks, sampel, atau instrumen bila hasil Anda berbeda dari penelitian lain.
  4. Implikasi. Sampaikan arti temuan bagi teori dan praktik, misalnya bagi pengajar, pengelola program, atau pembuat kebijakan, sebatas yang didukung data.
  5. Keterbatasan. Akui batas penelitian secara jujur dan tunjukkan arah penelitian berikutnya.

Untuk naskah dengan beberapa temuan, siklus temuan, perbandingan, penjelasan, dan implikasi bisa diulang untuk setiap temuan, lalu keterbatasan ditulis sekali di akhir. Karena pembahasan memuat banyak sitasi, pastikan setiap rujukan pembanding tercatat lengkap dan konsisten. Panduannya ada di artikel cara menulis daftar pustaka.

Contoh Paragraf Hasil dan Paragraf Pembahasan dari Penelitian Rekaan

Contoh berikut berasal dari penelitian rekaan tentang pengaruh kuis daring mingguan terhadap nilai ujian akhir mahasiswa pada mata kuliah statistika dasar. Penelitian memakai desain kuasi eksperimen dengan dua kelas, masing-masing berisi 60 mahasiswa. Nama peneliti, angka, dan rujukan di dalamnya hanya contoh.

Paragraf hasil. Rata-rata nilai ujian akhir kelompok eksperimen (M = 78,4; SD = 8,1) lebih tinggi daripada kelompok kontrol (M = 71,9; SD = 9,6). Uji t sampel independen menunjukkan perbedaan ini signifikan, t(118) = 4,01, p < 0,001, dengan ukuran efek d = 0,73. Rincian per jenis soal disajikan pada Tabel 3. Selisih terbesar terdapat pada soal penerapan konsep, sedangkan pada soal definisi skor kedua kelompok hampir sama.

Paragraf pembahasan. Mahasiswa yang mengikuti kuis daring mingguan memperoleh nilai ujian akhir lebih tinggi daripada mahasiswa di kelas pembanding. Temuan ini sejalan dengan Pratama (rujukan rekaan) pada mata kuliah kalkulus, tetapi berbeda dengan Lestari (rujukan rekaan) yang tidak menemukan perbedaan berarti. Perbedaannya kemungkinan terletak pada umpan balik. Dalam penelitian ini mahasiswa langsung melihat pembahasan soal setelah kuis, sedangkan kuis pada penelitian Lestari hanya menampilkan skor. Selisih terbesar pada soal penerapan juga mengindikasikan bahwa latihan mengingat kembali materi lebih membantu pemahaman daripada hafalan. Bagi dosen, kuis singkat yang disertai pembahasan dapat menjadi pilihan yang mudah diterapkan. Namun, penelitian ini hanya melibatkan dua kelas di satu program studi tanpa pengacakan individu, sehingga temuannya perlu diuji pada konteks yang lebih luas.

Perhatikan bedanya. Paragraf hasil tidak memuat kata “karena” dan tidak mengutip siapa pun. Paragraf pembahasan tidak lagi menyebut rata-rata dan simpangan baku, tetapi langsung memakai temuan utama sebagai titik berangkat. Kalimat pembukanya juga tidak menyalin kalimat hasil, melainkan merangkum temuan dalam bahasa yang lebih umum. Kata “kemungkinan” dan “mengindikasikan” dipakai karena desain kuasi eksperimen dengan dua kelas belum cukup untuk klaim yang lebih kuat.

Kapan Hasil dan Pembahasan Boleh Digabung

Cukup banyak jurnal, termasuk jurnal nasional, memakai satu bagian berjudul “Hasil dan Pembahasan”. Jurnal lain memisahkannya menjadi dua bagian, kadang ditambah bagian Kesimpulan tersendiri. Keputusannya bukan di tangan penulis. Ikuti template dan pedoman jurnal sasaran, lalu periksa beberapa artikel terbarunya untuk melihat praktik yang sebenarnya.

Digabung tidak berarti hasil dan tafsiran boleh bercampur dalam satu kalimat. Pola yang rapi adalah membagi bagian ini menjadi subbagian sesuai tujuan penelitian. Di setiap subbagian, sajikan hasil terlebih dahulu beserta tabel atau gambarnya, baru kemudian bahas artinya. Judul subbagian yang informatif, misalnya berupa pernyataan singkat tentang temuan, membantu pembaca mengikuti alur. Dengan begitu pembaca tetap bisa membedakan mana data dan mana interpretasi Anda.

Kesalahan Umum dan Cara Memperbaikinya

Kesalahan Contoh Perbaikan
Pembahasan hanya mengulang hasil Nilai rata-rata kedua kelompok ditulis ulang di awal pembahasan, lalu paragraf berakhir Mulai dari temuan utama, lalu bandingkan dan jelaskan penyebabnya
Klaim melebihi data “Penelitian ini membuktikan bahwa kuis daring meningkatkan mutu pendidikan.” Batasi klaim sesuai desain dan sampel, misalnya “pada dua kelas yang diteliti”
Korelasi dibaca sebagai sebab akibat “Literasi digital menyebabkan guru lebih sering memakai media daring.” Untuk data korelasional, gunakan “berhubungan dengan”
Tafsiran dan sitasi masuk ke hasil “Nilai meningkat karena mahasiswa lebih termotivasi, sesuai pendapat X.” Pindahkan alasan dan sitasi ke pembahasan
Angka diulang di teks dan tabel Paragraf menyalin seluruh isi Tabel 2 Sebut pola utama dan rujuk tabelnya
Hasil yang tidak sesuai hipotesis disembunyikan Hanya variabel yang signifikan dilaporkan Laporkan semua hasil terkait tujuan, lalu bahas kemungkinan penyebabnya
Perbandingan sekadar “sejalan dengan” “Hasil ini sejalan dengan penelitian A, B, dan C.” Jelaskan pada aspek apa sejalan atau berbeda, dan mengapa

Contoh kalimat dalam tabel adalah contoh rekaan untuk ilustrasi.

Dua kesalahan pertama layak mendapat perhatian khusus. Pembahasan yang hanya mengulang hasil membuat reviewer merasa tidak ada pemikiran baru di naskah. Klaim yang melebihi data lebih berbahaya karena menyangkut kejujuran ilmiah. Kata “membuktikan” jarang tepat untuk satu penelitian, generalisasi ke populasi luas tidak bisa ditarik dari sampel yang sempit, dan hubungan sebab akibat tidak bisa disimpulkan dari data korelasional. Pilih kata yang sesuai kekuatan bukti Anda.

Setelah hasil dan pembahasan selesai, baca ulang naskah secara utuh dan pastikan kesimpulan tidak memuat hal yang belum dibahas. Daftar periksa untuk naskah lengkap bisa Anda temukan dalam panduan menulis artikel jurnal ilmiah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan hasil dan pembahasan dalam artikel jurnal?

Hasil melaporkan apa yang ditemukan secara faktual, biasanya dengan bantuan tabel dan gambar. Pembahasan menafsirkan temuan tersebut, membandingkannya dengan penelitian sebelumnya, menjelaskan penyebabnya, menarik implikasi, dan menyebut keterbatasan.

Bolehkah mengutip penelitian lain di bagian hasil?

Pada format terpisah, bagian hasil umumnya tidak memuat sitasi selain untuk menyebut prosedur. Perbandingan dengan penelitian lain ditempatkan di pembahasan. Pada format gabungan, sitasi muncul setelah hasil di setiap subbagian disajikan.

Bagaimana jika hasil penelitian tidak sesuai hipotesis?

Laporkan apa adanya. Di pembahasan, jelaskan kemungkinan penyebabnya, misalnya perbedaan konteks, karakteristik sampel, atau cara pengukuran, lalu bandingkan dengan penelitian yang hasilnya serupa atau berbeda. Hasil yang tidak sesuai hipotesis tetap merupakan temuan yang sah.

Apakah semua angka di tabel perlu dijelaskan di teks?

Tidak. Teks cukup merujuk tabel dan menyoroti pola atau nilai terpenting. Menyalin seluruh isi tabel ke paragraf membuat naskah panjang tanpa menambah informasi.

Di mana sebaiknya keterbatasan penelitian ditulis?

Umumnya di akhir pembahasan, sebelum kesimpulan. Sebagian jurnal meminta subbagian khusus untuk keterbatasan, jadi periksa template jurnal sasaran Anda.

Ubah temuan Anda menjadi pembahasan yang meyakinkan

Pelopor Publikasi mendampingi Anda menata hasil dan pembahasan agar runtut, sesuai data, dan sesuai pedoman jurnal sasaran.

Konsultasikan Naskah Anda

Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.

Share this article

About Author

Tim Pelopor Publikasi

Tim Editorial Pelopor Publikasi terdiri dari pendamping publikasi ilmiah yang membantu mahasiswa, dosen, dan peneliti mempersiapkan naskah untuk jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional bereputasi. Setiap artikel di blog ini disusun dari pengalaman pendampingan naskah lintas bidang dan penelusuran langsung ke sumber resmi seperti portal SINTA, Scopus, dan laman penerbit, lalu ditinjau sebelum terbit agar informasinya akurat. Untuk berdiskusi tentang kebutuhan publikasi Anda, gunakan tombol konsultasi yang tersedia di setiap artikel.

Most Relevent