Cara menulis tinjauan pustaka yang meyakinkan reviewer bukan dengan menumpuk ringkasan penelitian sebanyak mungkin, melainkan dengan menyintesis. Banyak naskah memuat tinjauan pustaka yang isinya “Penulis A meneliti ini dan menemukan itu, Penulis B meneliti ini dan menemukan itu” berulang sampai belasan paragraf. Hasilnya panjang, tetapi tidak menjawab pertanyaan terpenting, yaitu apa yang sudah diketahui, apa yang masih diperdebatkan, dan di mana posisi penelitian Anda.
Panduan ini menjelaskan beda rangkuman dan sintesis, lalu langkah praktisnya, mulai dari memilih sumber, membuat matriks literatur, mengelompokkan tema, menulis paragraf sintesis, menunjukkan posisi penelitian, sampai mengelola referensi. Ada contoh matriks serta perbandingan paragraf rangkuman dan paragraf sintesis yang bisa Anda tiru.
Tinjauan pustaka yang baik disusun per tema atau gagasan, bukan per penulis. Kumpulkan sumber yang relevan, mutakhir, dan berkualitas, catat dalam matriks literatur, kelompokkan temuannya ke dalam tema, lalu tulis paragraf yang membandingkan dan menghubungkan beberapa sumber sekaligus. Akhiri dengan menunjukkan celah yang tersisa dan posisi penelitian Anda. Di artikel jurnal, tinjauan pustaka lebih ringkas dan lebih terarah daripada di skripsi atau tesis.
Tim Pelopor Publikasi bisa membantu Anda menata ulang literatur menjadi argumen yang runtut dan sesuai dengan jurnal sasaran.
Rangkuman dan Sintesis, Apa Bedanya?
Rangkuman menceritakan isi satu sumber. Sintesis menghubungkan beberapa sumber untuk menghasilkan pemahaman baru, yaitu di mana temuan mereka sejalan, di mana berbeda, mengapa berbeda, dan apa yang belum terjawab. Rangkuman tetap diperlukan sebagai bahan mentah di catatan Anda, tetapi yang masuk ke naskah seharusnya sintesisnya.
| Aspek | Rangkuman | Sintesis |
|---|---|---|
| Satuan pengorganisasian | Per sumber atau per penulis | Per tema, konsep, atau pertanyaan |
| Kalimat topik | Diawali nama penulis atau studi (“Studi A menemukan…”) | Diawali gagasan atau klaim (“Pengaruh pembelajaran berbasis proyek belum konsisten…”) |
| Hubungan antarsumber | Jarang ditunjukkan | Persamaan, perbedaan, dan penyebab perbedaan dijelaskan |
| Peran penulis | Melaporkan isi sumber | Menilai, membandingkan, dan menarik kesimpulan |
| Hasil akhir | Daftar temuan | Peta pengetahuan yang mengarah ke celah penelitian |
Satu paragraf sintesis umumnya merujuk lebih dari satu sumber dan selalu memuat penilaian penulis.
Perlu diingat, tinjauan pustaka di artikel jurnal jauh lebih ringkas daripada Bab II skripsi atau tesis. Anda tidak perlu menguraikan teori dari buku teks secara panjang. Cukup bahas literatur yang langsung menopang argumen dan pertanyaan penelitian. Sebagian jurnal bahkan tidak menyediakan bagian tinjauan pustaka tersendiri sehingga literatur dibahas di pendahuluan. Letak dan porsinya mengikuti struktur artikel IMRaD serta pedoman jurnal sasaran.
Langkah Cara Menulis Tinjauan Pustaka secara Sintesis
Langkah berikut memakai satu contoh penelitian rekaan tentang pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, supaya setiap langkah terlihat hasilnya.
1. Mencari dan memilih sumber
Mulailah dari pertanyaan penelitian, bukan dari tumpukan PDF yang kebetulan sudah Anda miliki. Telusuri Google Scholar, portal SINTA, basis data berlangganan milik kampus Anda seperti Scopus, dan DOAJ untuk jurnal akses terbuka. Setelah itu, saring sumber dengan tiga kriteria berikut.
- Relevansi. Sumber harus berkaitan langsung dengan variabel, konsep, konteks, atau metode penelitian Anda. Sumber yang hanya bersinggungan dengan topik tidak perlu dimasukkan.
- Kemutakhiran. Utamakan publikasi terbaru agar tinjauan Anda mencerminkan perkembangan terakhir, tetapi tetap rujuk karya klasik yang menjadi dasar teori. Sebagian jurnal menetapkan proporsi rujukan terbaru dalam pedomannya, jadi cek ketentuan itu sejak awal.
- Kualitas. Prioritaskan artikel dari jurnal yang melalui review sejawat dan indeksasinya jelas, misalnya terakreditasi SINTA atau terindeks Scopus. Hindari jurnal yang menunjukkan ciri predator, dan kutip sumber primer, bukan sumber yang sekadar mengutip sumber lain.
2. Membuat matriks literatur
Matriks literatur adalah tabel kerja tempat Anda mencatat setiap sumber dengan kolom yang sama. Dengan matriks, pola mulai terlihat, misalnya sumber mana yang memakai metode serupa, konteks mana yang belum disentuh, dan temuan mana yang bertentangan.
| Sumber | Konteks dan Partisipan | Metode | Temuan Utama | Catatan dan Tema |
|---|---|---|---|---|
| Studi A | Mahasiswa teknik, satu universitas | Kuasi eksperimen | Skor berpikir kritis kelompok PjBL lebih tinggi daripada kelompok konvensional | Proyek didampingi dosen. Tema: efek PjBL |
| Studi B | Mahasiswa pendidikan, tiga kampus | Survei | Mahasiswa menilai PjBL bermanfaat, tetapi mengeluhkan pembagian beban kerja kelompok | Data persepsi, bukan kemampuan. Tema: pengalaman mahasiswa |
| Studi C | Mahasiswa ekonomi, satu kelas | Studi kasus kualitatif | Berpikir kritis berkembang ketika dosen memberi umpan balik di setiap tahap proyek | Menyoroti peran dosen. Tema: kondisi pendukung |
| Studi D | Mahasiswa kesehatan, dua kelas | Kuasi eksperimen | Tidak ada perbedaan signifikan dengan pembelajaran konvensional | Proyek berjalan tanpa pendampingan. Tema: efek PjBL |
Contoh rekaan. Studi A sampai D bukan penelitian nyata. Dalam praktik, tambahkan kolom identitas sumber (penulis, tahun, jurnal, DOI) dan kolom keterbatasan penelitian.
Matriks bisa dibuat di spreadsheet atau tabel dokumen biasa. Isi kolomnya dengan kata-kata Anda sendiri, bukan salinan kalimat abstrak. Kebiasaan ini sekaligus melatih parafrase dan mengurangi risiko kemiripan teks dengan sumber.
3. Mengelompokkan tema
Setelah matriks terisi, baca kolom temuan dan catatan secara vertikal. Dari contoh di atas muncul tiga tema, yaitu efek PjBL terhadap kemampuan berpikir kritis, pengalaman mahasiswa selama proyek, dan kondisi yang membuat PjBL berhasil. Tema-tema inilah yang menjadi subjudul atau kerangka paragraf tinjauan pustaka Anda.
Selain per tema, literatur juga bisa disusun menurut perkembangan waktu bila Anda ingin menunjukkan pergeseran pemikiran, atau menurut pendekatan metode bila perdebatan utamanya terletak pada cara mengukur. Pilih satu logika utama dan pertahankan sepanjang bagian ini.
Kirimkan draf Anda ke tim Pelopor Publikasi. Kami bantu memeriksa alur sintesis, kualitas rujukan, dan kesesuaiannya dengan pedoman jurnal.
Menulis Paragraf Sintesis, Contoh Sebelum dan Sesudah
Paragraf sintesis umumnya dibuka dengan kalimat topik berupa klaim, lalu didukung beberapa sumber, diperbandingkan, dan ditutup dengan penilaian Anda. Bandingkan dua contoh rekaan berikut yang memakai bahan yang sama dari matriks di atas.
Contoh paragraf rangkuman (rekaan): “Studi A meneliti mahasiswa teknik dan menemukan bahwa skor berpikir kritis kelompok PjBL lebih tinggi. Studi C melakukan studi kasus pada mahasiswa ekonomi dan menemukan bahwa kemampuan berpikir kritis berkembang ketika dosen memberi umpan balik. Studi D meneliti mahasiswa kesehatan dan tidak menemukan perbedaan signifikan.”
Contoh paragraf sintesis (rekaan): “Pengaruh PjBL terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa belum konsisten. Studi A melaporkan skor yang lebih tinggi pada kelompok yang belajar dengan proyek, sedangkan Studi D tidak menemukan perbedaan dengan pembelajaran konvensional. Perbedaan ini tampaknya berkaitan dengan peran dosen. Proyek dalam Studi D berjalan tanpa pendampingan, sementara Studi C menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis berkembang ketika dosen memberi umpan balik di setiap tahap proyek. Dengan demikian, efek PjBL mungkin bergantung pada intensitas pendampingan, faktor yang belum diuji secara langsung dalam studi-studi tersebut.”
Paragraf pertama dibuka dengan nama sumber dan berhenti pada laporan. Paragraf kedua dibuka dengan klaim, menghadapkan temuan yang bertentangan, menawarkan penjelasan, lalu ditutup dengan celah yang mengarah ke penelitian baru. Frasa penghubung seperti sejalan dengan, berbeda dengan, diperkuat oleh, dan sebaliknya membantu pembaca melihat hubungan antarsumber.
Ada uji sederhana untuk memeriksa hasilnya. Baca hanya kalimat pertama setiap paragraf tinjauan pustaka Anda. Bila rangkaian kalimat itu sudah membentuk argumen yang runtut, struktur sintesisnya sudah benar. Bila isinya hanya deretan nama penulis, susun ulang kalimat topiknya.
Menunjukkan Posisi Penelitian Anda
Tinjauan pustaka belum selesai bila hanya berhenti pada peta literatur. Bagian akhirnya perlu menjawab di mana penelitian Anda berdiri di antara studi yang sudah ada.
- Nyatakan celah yang tersisa. Turunkan celah langsung dari sintesis Anda, misalnya “intensitas pendampingan dosen belum diuji sebagai faktor yang memengaruhi efek PjBL terhadap kemampuan berpikir kritis”.
- Tegaskan teori atau kerangka konsep yang dipakai. Jelaskan konsep atau teori mana yang Anda gunakan dan alasannya, serta hipotesis yang diturunkan darinya bila penelitian Anda kuantitatif.
- Jembatani ke metode. Pilihan desain penelitian sebaiknya terasa sebagai jawaban atas keterbatasan studi sebelumnya. Rinciannya dijelaskan di bagian metode, dan panduan cara menulis metode penelitian membahas bagian itu secara khusus.
Bila jurnal sasaran menggabungkan tinjauan pustaka ke pendahuluan, bagian posisi ini menyatu dengan pernyataan research gap dan tujuan di akhir pendahuluan.
Mengelola Referensi dengan Mendeley atau Zotero
Tinjauan pustaka melibatkan banyak sumber, sehingga mencatat sitasi secara manual mudah menimbulkan kesalahan. Tahun di sitasi tidak sama dengan di daftar pustaka, sumber yang dikutip tidak tercantum, atau gaya penulisan tidak seragam. Pengelola referensi seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote membantu mencegah masalah itu.
- Simpan sumber sejak tahap pencarian. Impor artikel beserta metadatanya, lalu beri tag atau koleksi sesuai tema di matriks literatur Anda.
- Periksa metadata hasil impor. Nama penulis, tahun, judul, nama jurnal, volume, halaman, dan DOI kadang terbaca keliru. Perbaiki di aplikasi, bukan langsung di dokumen naskah.
- Sisipkan sitasi lewat plugin pengolah kata. Mendeley dan Zotero menyediakan plugin untuk Microsoft Word sehingga sitasi dan daftar pustaka tersusun otomatis.
- Sesuaikan gaya sitasi dengan jurnal. Gaya seperti APA edisi ketujuh, IEEE, Vancouver, Harvard, atau Chicago bisa diganti dengan cepat, tetapi pilihannya tetap mengikuti pedoman jurnal sasaran.
Kesalahan Umum dalam Tinjauan Pustaka
- Disusun urut per penulis. Satu paragraf untuk satu penelitian adalah ciri paling jelas tinjauan pustaka yang belum disintesis. Susun ulang per tema.
- Kutipan langsung berlebihan. Kutipan langsung yang panjang dan beruntun menandakan sumber belum diolah. Pakai kutipan langsung hanya untuk definisi penting atau rumusan yang khas, selebihnya parafrasekan dengan sitasi.
- Sumber usang atau sumber sekunder. Mengandalkan rujukan lama untuk topik yang berkembang cepat membuat reviewer meragukan kebaruan penelitian. Begitu pula mengutip teori dari skripsi atau buku ringkasan padahal sumber aslinya tersedia.
- Hanya memilih sumber yang mendukung. Tinjauan yang mengabaikan temuan bertentangan terlihat berat sebelah. Justru temuan yang berbeda sering menjadi pintu masuk research gap.
- Terlalu panjang dan tidak terarah. Uraian definisi dan teori dari buku teks yang tidak terhubung dengan pertanyaan penelitian sebaiknya dipangkas. Setiap paragraf perlu punya alasan untuk ada.
- Tidak terhubung dengan bagian lain. Tema di tinjauan pustaka seharusnya muncul kembali di pembahasan, ketika Anda membandingkan temuan dengan studi sebelumnya.
Tinjauan pustaka hanyalah satu bagian dari naskah. Untuk melihat bagaimana bagian ini terhubung dengan pendahuluan, metode, hasil, dan pembahasan, baca panduan cara menulis artikel jurnal ilmiah secara utuh.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa beda tinjauan pustaka di artikel jurnal dan di skripsi?
Tinjauan pustaka di artikel jurnal jauh lebih ringkas dan hanya memuat literatur yang langsung menopang argumen dan pertanyaan penelitian. Di skripsi atau tesis, bagian ini biasanya lebih panjang dan memuat uraian teori yang lebih luas.
Berapa jumlah rujukan yang ideal dalam tinjauan pustaka?
Tidak ada angka yang berlaku umum. Sebagian jurnal menetapkan jumlah minimal rujukan atau proporsi rujukan terbaru dalam pedoman penulisnya. Cek pedoman jurnal sasaran dan bandingkan dengan artikel yang baru terbit di jurnal tersebut.
Apakah tinjauan pustaka harus menjadi bagian tersendiri?
Tidak selalu. Banyak jurnal menggabungkan tinjauan pustaka ke dalam pendahuluan, sementara jurnal lain menyediakan bagian tersendiri. Ikuti template dan pedoman jurnal sasaran.
Bolehkah mengutip skripsi, tesis, atau buku?
Boleh bila relevan dan diizinkan pedoman jurnal, tetapi utamakan artikel jurnal yang telah melalui review sejawat. Untuk teori, sebisa mungkin kutip sumber aslinya, bukan skripsi atau buku yang mengutipnya.
Lebih baik Mendeley atau Zotero?
Keduanya memadai untuk mengelola referensi dan menyusun sitasi otomatis di Word. Pilih yang paling nyaman bagi Anda dan rekan penulis, terutama bila pustaka perlu dibagi dalam satu tim. Yang lebih penting adalah memeriksa metadata setiap sumber dan memakai gaya sitasi sesuai pedoman jurnal.
Tim Pelopor Publikasi siap mendampingi Anda menyusun sintesis literatur, merapikan referensi, dan menyiapkan naskah sesuai jurnal sasaran.
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.






