Cara menulis metode penelitian untuk artikel jurnal bertumpu pada satu ukuran sederhana: apakah peneliti lain di bidang yang sama bisa mengulang penelitian Anda hanya dengan membaca bagian ini. Reviewer membaca metode dengan pertanyaan itu di kepala. Begitu ada langkah yang kabur, misalnya sampel yang tidak jelas asalnya atau instrumen tanpa bukti validitas, kepercayaan mereka pada hasil ikut turun, sebagus apa pun temuan Anda.
Banyak penulis memindahkan bab metode skripsi atau tesis ke dalam artikel hampir apa adanya, sehingga hasilnya panjang di teori tetapi tipis di detail pelaksanaan. Artikel ini membahas prinsip replikasi, komponen metode, pertanyaan reviewer untuk tiap komponen, beda penekanan menurut jenis penelitian, gaya bahasa, dan kesalahan umum. Posisi bagian metode dalam keseluruhan naskah bisa Anda lihat di artikel tentang struktur artikel ilmiah IMRaD.
Tulis bagian metode sehingga peneliti lain bisa mengulang penelitian Anda. Sebutkan desain dan alasannya, lokasi dan waktu secara umum, populasi dan cara memilih sampel atau partisipan, instrumen beserta bukti validitas dan reliabilitasnya, prosedur pengumpulan data, teknik analisis, serta etika penelitian. Utamakan detail pelaksanaan, bukan definisi teori metode, dan tulis dalam bentuk laporan atas hal yang sudah dilakukan dengan gaya kalimat yang lazim di jurnal sasaran.
Kirimkan draf metode Anda. Kami bantu menandai detail yang belum cukup untuk direplikasi sebelum naskah dikirim ke jurnal.
Prinsip Dasar Cara Menulis Metode Penelitian, Bisa Direplikasi
Replikasi di sini tidak berarti peneliti lain akan memperoleh hasil yang persis sama. Maksudnya, mereka bisa mengikuti langkah yang sama: memilih subjek dengan kriteria yang sama, memakai instrumen yang sama, mengumpulkan data dengan prosedur yang sama, lalu menganalisisnya dengan teknik yang sama. Kalau langkah itu bisa diikuti, reviewer juga bisa menilai apakah kesimpulan Anda masuk akal.
Ada cara sederhana untuk mengujinya. Berikan draf metode kepada rekan sebidang yang tidak terlibat dalam penelitian, lalu tanyakan apakah dengan informasi itu saja ia bisa menjalankan penelitian yang sama. Setiap kali ia bertanya “sampelnya dipilih bagaimana?” atau “skala ini dari mana?”, Anda menemukan satu celah yang kemungkinan besar juga akan ditanyakan reviewer.
Prinsip ini sekaligus menjelaskan beda bab metode skripsi dengan bagian metode artikel. Skripsi sering meminta uraian teori, misalnya pengertian populasi menurut beberapa ahli. Artikel jurnal tidak membutuhkannya. Yang dibutuhkan adalah apa yang benar-benar Anda lakukan, dengan rujukan singkat untuk prosedur yang sudah baku.
Komponen Bagian Metode dan Isi Minimalnya
Nama subbagian dan urutannya bisa berbeda antarjurnal. Ada jurnal yang memakai subjudul seperti Desain, Partisipan, Instrumen, dan Analisis Data, ada pula yang meminta teks mengalir tanpa subjudul. Apa pun formatnya, tujuh komponen berikut hampir selalu dicari reviewer pada artikel penelitian empiris.
Desain penelitian
Sebutkan desainnya secara spesifik, bukan sekadar “kuantitatif” atau “kualitatif”. Survei potong lintang, kuasi eksperimen dengan kelompok kontrol, studi kasus, dan fenomenologi adalah contoh penyebutan yang cukup jelas. Tambahkan satu kalimat alasan mengapa desain ini cocok untuk menjawab pertanyaan penelitian Anda.
Lokasi dan waktu
Cukup tulis secara umum: jenis tempat, wilayah, dan rentang waktu pengumpulan data. Informasi ini membantu pembaca menilai konteks temuan. Bila izin penelitian atau pertimbangan etika tidak membolehkan nama instansi disebut, samarkan dengan deskripsi karakteristiknya, misalnya “dua SMP negeri di wilayah perkotaan sebuah kabupaten di Jawa Barat”.
Populasi dan sampel, atau partisipan
Jelaskan populasi sasaran, teknik pengambilan sampel, alasan memilih teknik itu, dasar penentuan ukuran sampel, kriteria inklusi dan eksklusi, serta jumlah yang benar-benar ikut sampai akhir. Pada penelitian kualitatif, jelaskan siapa partisipannya, bagaimana mereka dipilih, kriteria yang dipakai, dan kapan Anda berhenti menambah partisipan.
Instrumen, validitas, dan reliabilitas
Tulis asal instrumen (disusun sendiri atau diadaptasi dari sumber mana), jumlah butir, skala jawaban, dan contoh satu butir bila jurnal mengizinkan. Laporkan bukti kualitasnya: cara menguji validitas, misalnya penilaian ahli atau analisis faktor, serta koefisien reliabilitas yang dihitung dari data penelitian Anda sendiri. Pada penelitian kualitatif, padanannya adalah pedoman wawancara atau observasi dan strategi keabsahan data seperti triangulasi dan member checking.
Prosedur pengumpulan data
Uraikan langkahnya secara berurutan: siapa yang mengumpulkan data, dengan cara apa (tatap muka, daring, atau penelusuran dokumen), bagaimana partisipan dihubungi, dan apa yang terjadi di setiap tahap. Untuk eksperimen, jelaskan perlakuan pada tiap kelompok secukupnya agar bisa diulang orang lain.
Teknik analisis data
Sebut teknik analisis untuk setiap pertanyaan atau hipotesis, uji prasyarat yang dilakukan, cara menangani data yang hilang atau tidak lengkap, serta perangkat lunak dan versinya. Pada penelitian kualitatif, jelaskan pendekatan analisisnya, misalnya analisis tematik, langkah pengodean, dan siapa yang melakukan pengodean. Menyebut nama perangkat lunak saja belum menjelaskan analisis apa pun.
Etika penelitian dan persetujuan
Nyatakan bahwa partisipan memberi persetujuan setelah mendapat penjelasan (informed consent), bagaimana kerahasiaan identitas dijaga, dan bagaimana data disimpan. Penelitian yang melibatkan manusia, terutama di bidang kesehatan, umumnya memerlukan persetujuan komisi etik penelitian, dan banyak jurnal meminta nomor persetujuannya dicantumkan. Periksa ketentuan ini di pedoman penulis jurnal sasaran.
Pertanyaan Reviewer untuk Setiap Komponen
Tabel berikut merangkum isi minimal tiap komponen dan pertanyaan yang biasa muncul bila komponen itu kurang lengkap. Gunakan sebagai daftar periksa sebelum naskah dikirim.
| Komponen | Yang perlu ditulis | Pertanyaan reviewer yang biasa muncul |
|---|---|---|
| Desain | Nama desain yang spesifik dan alasan pemilihannya | Mengapa desain ini? Apakah desain ini memang bisa menjawab pertanyaan penelitian? |
| Lokasi dan waktu | Jenis tempat, wilayah, dan rentang waktu pengumpulan data | Dalam konteks apa data diambil? Seberapa jauh temuan bisa berlaku di tempat lain? |
| Populasi dan sampel | Populasi, teknik sampling, alasan, dasar ukuran sampel, kriteria, jumlah akhir | Bagaimana ukuran sampel ditentukan? Berapa yang tidak merespons atau gugur? |
| Instrumen | Asal instrumen, jumlah butir, skala, bukti validitas dan reliabilitas | Apakah instrumen sudah diuji pada populasi serupa? Berapa reliabilitasnya pada data Anda? |
| Prosedur | Langkah berurutan, pelaksana, dan media pengumpulan data | Siapa yang mengumpulkan data dan bagaimana bias dikendalikan? |
| Analisis | Teknik per pertanyaan, uji prasyarat, penanganan data hilang, perangkat lunak | Apakah asumsi uji terpenuhi? Mengapa memilih teknik ini? |
| Etika | Persetujuan partisipan, kerahasiaan, persetujuan komisi etik bila diperlukan | Apakah partisipan memberi persetujuan? Adakah persetujuan etik? |
Pertanyaan disusun dari pola komentar reviewer yang umum. Pertanyaan pada naskah Anda bisa berbeda sesuai bidang dan jurnal.
Diskusikan draf metode beserta pedoman penulis jurnal sasaran Anda. Kami bantu melihat komponen yang belum lengkap atau masih terlalu teoretis.
Contoh Paragraf Metode dari Penelitian Rekaan
Supaya lebih konkret, berikut dua versi paragraf metode untuk satu penelitian rekaan tentang hubungan literasi digital guru dengan pemanfaatan media pembelajaran daring. Nama, angka, dan rujukan di dalamnya hanya contoh.
Versi lemah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi penelitian adalah guru. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Instrumen berupa kuesioner yang sudah valid dan reliabel. Data dianalisis menggunakan SPSS.
Versi yang lebih siap direview. Penelitian ini menggunakan desain survei potong lintang untuk menguji hubungan literasi digital guru dengan frekuensi pemanfaatan media pembelajaran daring. Populasinya adalah guru SMP negeri di satu kabupaten di Jawa Barat. Sampel dipilih dengan cluster random sampling pada tingkat sekolah: 12 dari 38 sekolah diundi, lalu seluruh guru di sekolah terpilih diundang. Dari 260 guru yang diundang, 212 mengisi kuesioner secara lengkap. Literasi digital diukur dengan 24 butir skala Likert lima poin yang diadaptasi dari skala Wiratama dan Sari (rujukan rekaan) melalui prosedur terjemahan balik. Koefisien Cronbach’s alpha pada data penelitian ini sebesar 0,87. Kuesioner disebarkan secara daring pada Februari sampai April, dan responden menyatakan persetujuan di halaman pertama sebelum mengisi. Data dianalisis dengan regresi linear berganda menggunakan SPSS versi 26, dengan usia dan masa kerja sebagai variabel kontrol, setelah uji normalitas residual, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.
Versi kedua lebih panjang, tetapi setiap kalimatnya menjawab satu pertanyaan reviewer, mulai dari desain, sampel, dan instrumen sampai waktu pengumpulan data dan analisis. Versi pertama justru memancing pertanyaan di hampir setiap kalimat. Frasa “sudah valid dan reliabel” tanpa bukti termasuk yang sering dikomentari reviewer.
Beda Penekanan pada Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran
Kuantitatif
Penekanannya ada pada ketepatan pengukuran dan prosedur statistik. Reviewer mencari definisi operasional variabel yang jelas, dasar penentuan ukuran sampel, bukti validitas dan reliabilitas instrumen, serta kecocokan uji statistik dengan jenis data dan pertanyaan penelitian. Laporkan juga uji prasyarat dan apa yang Anda lakukan bila data tidak memenuhi asumsi.
Kualitatif
Mengulang penelitian kualitatif secara persis memang sulit, sehingga penekanannya bergeser ke keterbukaan proses. Jelaskan posisi peneliti terhadap partisipan dan lokasi, alasan memilih partisipan, cara data direkam dan ditranskripsi, langkah analisis dari kode sampai tema, serta strategi keabsahan data. Pembaca perlu bisa menelusuri bagaimana Anda sampai pada tema yang dilaporkan.
Campuran
Selain menjelaskan komponen kuantitatif dan kualitatif, sebutkan rancangan campurannya, misalnya sekuensial eksplanatori, sekuensial eksploratori, atau konvergen. Jelaskan urutan pengumpulan data, bobot masing-masing bagian, dan di titik mana kedua jenis data dipadukan. Bagian integrasi ini sering dipertanyakan karena tidak sedikit naskah yang sebenarnya hanya menempelkan dua penelitian terpisah.
Gaya Bahasa Bagian Metode
Bagian metode melaporkan sesuatu yang sudah dilakukan. Kebiasaan dari proposal sering terbawa, misalnya “data akan dikumpulkan” atau “peneliti akan menggunakan”. Ganti dengan bentuk yang menunjukkan tindakan selesai, seperti “data dikumpulkan” atau “kuesioner disebarkan”. Pada naskah berbahasa Inggris, bagian ini lazim ditulis dalam past tense.
Soal kalimat pasif atau aktif, ikuti kebiasaan jurnal sasaran. Banyak jurnal berbahasa Indonesia memakai kalimat pasif seperti “sampel dipilih secara acak”. Sebagian jurnal internasional justru menganjurkan kalimat aktif dengan subjek peneliti, misalnya “we selected”. Baca pedoman penulis dan beberapa artikel terbaru di jurnal tersebut, lalu pakai satu gaya secara konsisten.
Untuk prosedur yang sudah baku, cukup sebut namanya dan rujukannya tanpa menjelaskan cara kerja regresi atau analisis tematik dari awal. Ruang yang tersisa lebih berguna untuk detail khas penelitian Anda. Prinsip menulis ringkas ini berlaku juga untuk bagian lain naskah, sebagaimana dibahas dalam panduan cara menulis artikel jurnal ilmiah.
Kesalahan Umum yang Memancing Pertanyaan Reviewer
- Teori metode panjang, detail pelaksanaan tipis. Paragraf berisi pengertian penelitian kuantitatif atau definisi populasi menurut beberapa ahli, sementara jumlah sampel dan cara memilihnya tidak disebut.
- Tidak menyebut alasan pemilihan sampel. Menulis “purposive sampling” tanpa kriteria, atau menyebut jumlah sampel tanpa dasar penentuannya.
- Instrumen tanpa bukti. Klaim “valid dan reliabel” tanpa keterangan cara pengujian dan hasilnya.
- Analisis hanya berupa nama perangkat lunak. Kalimat “data diolah dengan SPSS” tidak menjelaskan uji apa yang dipakai.
- Masih memakai bahasa proposal. Kata “akan” tertinggal di beberapa kalimat.
- Etika tidak disebut. Tidak ada keterangan persetujuan partisipan, padahal penelitian melibatkan manusia.
- Metode dan hasil tidak sinkron. Analisis yang disebut di metode tidak muncul di hasil, atau hasil memakai uji yang tidak pernah disebut di metode.
Kesalahan terakhir sering baru terlihat ketika naskah dibaca utuh. Setelah metode selesai, cocokkan setiap analisis dengan tabel atau paragraf hasilnya. Cara menyajikan hasil dengan rapi dan memisahkannya dari tafsiran dibahas di artikel cara menulis hasil dan pembahasan.
Tulis hanya prosedur yang benar-benar Anda lakukan. Menambahkan uji validitas, persetujuan etik, atau tahapan yang tidak pernah dilaksanakan agar metode terlihat lengkap termasuk pelanggaran etika penelitian. Bila ada komponen yang memang tidak dilakukan, lebih baik akui terus terang sebagai keterbatasan penelitian.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa panjang ideal bagian metode dalam artikel jurnal?
Tidak ada angka yang berlaku umum karena batas panjang naskah ditentukan pedoman tiap jurnal. Patokan yang lebih berguna adalah kelengkapan komponen untuk replikasi tanpa uraian teori yang tidak perlu. Bandingkan juga dengan bagian metode pada artikel terbaru di jurnal sasaran.
Apakah definisi operasional variabel perlu ditulis di bagian metode?
Pada penelitian kuantitatif, perlu. Tulis secara ringkas bagaimana setiap variabel diukur. Bila ruang terbatas, gabungkan dengan uraian instrumen.
Bolehkah menyebut nama sekolah atau instansi tempat penelitian?
Boleh bila ada izin dan tidak membuka identitas partisipan. Bila tidak, samarkan dengan deskripsi karakteristik tempat, misalnya jenjang, status, dan wilayahnya secara umum.
Apakah penelitian tanpa persetujuan komisi etik masih bisa dikirim ke jurnal?
Bergantung pada bidang dan kebijakan jurnal. Jurnal kesehatan dan banyak jurnal lain yang memuat penelitian dengan partisipan manusia meminta persetujuan etik. Bila jurnal sasaran tidak mensyaratkannya, setidaknya jelaskan persetujuan partisipan dan cara menjaga kerahasiaan data.
Lebih baik memakai kalimat aktif atau pasif di bagian metode?
Ikuti kebiasaan jurnal sasaran. Banyak jurnal berbahasa Indonesia memakai kalimat pasif, sedangkan sebagian jurnal internasional menganjurkan kalimat aktif. Yang penting, pilihan Anda konsisten di seluruh naskah.
Pelopor Publikasi mendampingi Anda merapikan bagian metode dan bagian lain naskah agar sesuai pedoman jurnal sasaran sebelum dikirim.
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.






