Cara menulis pendahuluan jurnal yang efektif bisa diringkas dalam satu kalimat: bawa pembaca dari konteks yang luas menuju celah penelitian yang spesifik, lalu tunjukkan bagaimana penelitian Anda mengisi celah itu. Reviewer membaca pendahuluan untuk menjawab dua pertanyaan, yaitu apakah masalahnya penting dan apakah penelitian ini menawarkan sesuatu yang belum ada. Bila jawaban keduanya belum terlihat sampai paragraf terakhir pendahuluan, naskah sudah kehilangan banyak poin.
Artikel ini membahas pola piramida terbalik untuk menyusun pendahuluan, cara merumuskan research gap yang didukung rujukan, jenis gap beserta contoh kalimatnya, cara menulis pernyataan tujuan, serta kesalahan yang paling sering membuat pendahuluan terasa bertele-tele.
Susun pendahuluan dengan pola piramida terbalik. Mulai dari konteks luas, persempit ke masalah spesifik, rangkum apa yang sudah diketahui dari penelitian sebelumnya, tunjukkan celah yang belum terjawab, lalu tutup dengan tujuan dan kontribusi penelitian. Research gap harus didukung rujukan, bukan sekadar klaim bahwa topik belum pernah diteliti. Pastikan tujuan di akhir pendahuluan sejalan dengan metode dan hasil yang Anda laporkan.
Tim Pelopor Publikasi bisa membantu Anda memetakan posisi penelitian dan merapikan alur pendahuluan sebelum naskah dikirim ke jurnal.
Tugas Pendahuluan dalam Artikel Jurnal
Dalam artikel penelitian yang memakai struktur IMRaD, pendahuluan adalah huruf I yang menjawab pertanyaan mengapa penelitian ini dilakukan. Bagian ini punya tiga tugas, yaitu menunjukkan bahwa masalahnya nyata dan penting, menunjukkan apa yang belum diketahui, dan menyatakan apa yang akan dilakukan penelitian Anda.
Pendahuluan berbeda dengan tinjauan pustaka. Pendahuluan memakai rujukan secara selektif untuk membangun argumen menuju celah penelitian. Tinjauan pustaka memetakan dan menyintesis literatur secara lebih mendalam, baik sebagai bagian tersendiri maupun digabung ke pendahuluan, tergantung pedoman jurnal. Teknik menyintesis literatur dibahas dalam panduan cara menulis tinjauan pustaka.
Perbedaan lain yang perlu disadari adalah antara pendahuluan artikel jurnal dan Bab I skripsi atau tesis. Artikel jurnal umumnya tidak memakai subjudul rumusan masalah, manfaat penelitian, atau sistematika penulisan, kecuali pedoman jurnal memintanya. Semua itu dilebur menjadi paragraf yang mengalir.
Pola Piramida Terbalik dalam Cara Menulis Pendahuluan Jurnal
Bayangkan pendahuluan sebagai corong. Bagian atasnya lebar dan berisi konteks, lalu makin menyempit sampai tiba pada satu titik, yaitu tujuan penelitian Anda. Contoh kalimat di bawah diambil dari penelitian rekaan tentang pencatatan keuangan digital pada UMKM kuliner. Tanda (Nama, Tahun) adalah tempat sitasi yang perlu Anda isi dengan rujukan nyata.
1. Konteks luas
Buka dengan konteks yang langsung berkaitan dengan topik, bukan pernyataan umum tentang zaman. Satu atau dua kalimat biasanya sudah cukup.
Contoh: “Pencatatan keuangan yang tertib menjadi salah satu syarat bagi UMKM untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal (Nama, Tahun).”
2. Masalah spesifik
Persempit ke masalah yang Anda teliti dan tunjukkan buktinya, misalnya data dari laporan resmi atau temuan studi pendahuluan dengan sumber yang jelas.
Contoh: “Namun, banyak pelaku UMKM kuliner masih mencatat transaksi secara manual atau tidak mencatat sama sekali, sehingga laporan keuangan sulit disusun saat mengajukan pinjaman (Nama, Tahun).”
3. Apa yang sudah diketahui
Rangkum temuan penelitian sebelumnya yang paling relevan secara berkelompok, bukan satu per satu. Tujuannya menunjukkan bahwa Anda memahami peta penelitian di topik ini.
Contoh: “Sejumlah studi menunjukkan bahwa aplikasi pencatatan keuangan meningkatkan keteraturan pencatatan pada UMKM di kota besar (Nama, Tahun; Nama, Tahun), terutama bila disertai pelatihan (Nama, Tahun).”
4. Celah penelitian
Inilah inti pendahuluan. Tunjukkan apa yang belum dijawab oleh penelitian sebelumnya dengan kata penanda yang jelas, seperti namun, meskipun demikian, atau sejauh penelusuran penulis.
Contoh: “Meskipun demikian, studi tersebut umumnya dilakukan di wilayah perkotaan dan berhenti pada pengukuran sesaat setelah pelatihan, sehingga belum diketahui apakah kebiasaan mencatat bertahan pada UMKM di kabupaten yang akses pendampingannya terbatas.”
5. Tujuan dan kontribusi
Tutup dengan tujuan yang spesifik dan kontribusi yang ditawarkan. Kalimat tujuan ini menjadi pegangan bagi seluruh bagian naskah berikutnya.
Contoh: “Penelitian ini bertujuan menganalisis keberlanjutan pencatatan keuangan digital pada UMKM kuliner di Kabupaten X enam bulan setelah program pendampingan berakhir. Temuannya diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merancang pendampingan lanjutan.”
Cara Merumuskan Research Gap yang Meyakinkan
Research gap yang lemah biasanya berbunyi “penelitian tentang topik ini masih jarang” tanpa bukti apa pun. Reviewer yang menguasai bidangnya bisa langsung menyebut beberapa penelitian yang Anda lewatkan. Gap yang meyakinkan dibangun dengan tiga langkah.
- Tunjukkan dulu apa yang sudah diteliti. Celah baru terlihat sah setelah Anda menampilkan peta penelitian sebelumnya beserta rujukannya. Tanpa itu, klaim celah hanya opini.
- Sebutkan secara spesifik apa yang kurang. Apakah yang kurang itu konteksnya, metodenya, populasinya, variabelnya, atau penjelasan teoretisnya? Semakin spesifik, semakin mudah reviewer menilai.
- Jelaskan mengapa celah itu penting diisi. Tidak semua yang belum diteliti layak diteliti. Hubungkan celah dengan masalah nyata, kebutuhan praktik, atau perdebatan teori.
Empat jenis gap berikut paling sering dipakai dalam artikel penelitian. Satu artikel bisa memakai lebih dari satu jenis, asalkan semuanya mengarah ke tujuan yang sama.
| Jenis Gap | Penjelasan | Contoh Kalimat (Rekaan) |
|---|---|---|
| Empiris | Hubungan atau fenomena belum diuji dengan data, atau temuan sebelumnya saling bertentangan | “Temuan tentang pengaruh pelatihan terhadap keteraturan pencatatan masih beragam. Sebagian studi menemukan pengaruh positif, sebagian lain tidak menemukan perbedaan (Nama, Tahun; Nama, Tahun).” |
| Metodologis | Metode, desain, atau pengukuran pada penelitian sebelumnya membatasi kesimpulan yang bisa ditarik | “Studi sebelumnya umumnya memakai survei satu waktu sehingga belum dapat menunjukkan apakah perubahan perilaku bertahan dalam jangka panjang.” |
| Kontekstual | Temuan sudah ada, tetapi pada konteks, populasi, atau wilayah lain, dan ada alasan kuat bahwa hasilnya bisa berbeda | “Studi sebelumnya dilakukan pada UMKM perkotaan, padahal UMKM di kabupaten menghadapi kondisi akses internet dan pendampingan yang berbeda.” |
| Teoretis | Teori yang ada belum menjelaskan suatu fenomena, belum diuji pada kasus tertentu, atau perlu diperluas | “Kerangka yang dipakai studi sebelumnya berfokus pada niat awal menggunakan aplikasi, sehingga belum menjelaskan mengapa sebagian pengguna berhenti setelah pendampingan berakhir.” |
Contoh kalimat merupakan rekaan. Ganti tanda (Nama, Tahun) dengan rujukan nyata yang mendukung klaim Anda.
Gap kontekstual sering dipakai, tetapi juga sering dikritik reviewer bila penulis hanya menyatakan bahwa penelitian di lokasi tertentu belum ada. Pindah lokasi saja belum cukup. Jelaskan karakteristik konteks yang membuat hasilnya mungkin berbeda, misalnya kondisi infrastruktur, budaya organisasi, atau kebijakan setempat.
Sebelum menulis frasa “belum pernah diteliti”, pastikan Anda sudah menelusuri literatur dengan memadai. Lebih aman menulis “sejauh penelusuran penulis” disertai keterangan basis data yang Anda telusuri, atau merumuskan celah secara lebih sempit dan terukur.
Konsultasikan draf pendahuluan Anda dengan tim Pelopor Publikasi untuk melihat apakah alur argumen dan rujukannya sudah meyakinkan.
Menulis Pernyataan Tujuan dan Kontribusi
Pernyataan tujuan adalah janji yang harus ditepati oleh bagian metode, hasil, dan pembahasan. Karena itu, tulis tujuan dengan kata kerja yang hasilnya bisa diperiksa, seperti menganalisis, menguji, membandingkan, mengidentifikasi, atau mengeksplorasi. Frasa “untuk mengetahui” tidak salah, tetapi sering terlalu kabur bila tidak diikuti apa yang diukur. Rumusan tujuan di pendahuluan juga harus sama maknanya dengan tujuan di abstrak dan sejalan dengan judul.
- Kurang tepat. “Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pencatatan keuangan UMKM.”
- Lebih tepat. “Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang memengaruhi keberlanjutan pencatatan keuangan digital pada UMKM kuliner setelah program pendampingan berakhir.”
Pada penelitian kuantitatif, hipotesis atau pertanyaan penelitian bisa dinyatakan di akhir pendahuluan atau di bagian tinjauan pustaka. Lihat kebiasaan artikel yang sudah terbit di jurnal sasaran.
Kontribusi menjawab pertanyaan apa yang berubah setelah penelitian ini ada. Bedakan kontribusi teoretis, misalnya memperluas penerapan suatu teori ke konteks baru, dan kontribusi praktis, misalnya memberi dasar perbaikan program. Tulis secukupnya dan proporsional dengan desain penelitian, karena klaim kontribusi yang terlalu besar justru memancing kritik.
Panjang dan Jumlah Paragraf yang Wajar
Tidak ada angka baku untuk panjang pendahuluan. Ukurannya proporsional dengan panjang artikel yang ditetapkan jurnal. Pendahuluan yang terlalu pendek biasanya melompat dari masalah langsung ke tujuan tanpa menunjukkan celah. Pendahuluan yang terlalu panjang biasanya penuh definisi, sejarah topik, atau ringkasan penelitian satu per satu.
Patokan paling praktis adalah artikel terbaru di jurnal sasaran. Ambil beberapa artikel yang topiknya dekat dengan penelitian Anda, lalu amati jumlah paragraf pendahuluannya, banyaknya rujukan, dan apakah tinjauan pustaka digabung atau dipisah. Pola itulah yang sudah dikenal editor jurnal tersebut.
Pastikan juga setiap paragraf memegang satu fungsi dalam piramida. Bila satu paragraf berisi konteks, masalah, dan gap sekaligus, pecah menjadi beberapa paragraf. Bila dua paragraf berturut-turut mengerjakan fungsi yang sama, gabungkan. Untuk melihat bagaimana pendahuluan terhubung dengan bagian lain naskah, baca juga panduan menulis artikel jurnal ilmiah dari awal.
Kesalahan Umum dalam Menulis Pendahuluan
Kesalahan berikut sering muncul pada pendahuluan naskah yang dikirim ke jurnal.
- Latar belakang terlalu umum. Pembuka seperti “Pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa” atau “Perkembangan teknologi sangat pesat” tidak membawa pembaca ke masalah Anda. Mulailah dari konteks yang relevan dengan topik.
- Gap tidak didukung rujukan. Klaim “belum ada penelitian” tanpa menunjukkan penelitian yang sudah ada mudah dipatahkan reviewer.
- Tujuan tidak sejalan dengan hasil. Pendahuluan menjanjikan analisis pengaruh, tetapi hasil hanya menyajikan deskripsi. Setelah naskah selesai, cocokkan kembali tujuan dengan subjudul hasil dan pembahasan.
- Data pendukung tanpa sumber atau sudah usang. Angka yang dipakai untuk menunjukkan pentingnya masalah harus jelas sumbernya dan masih relevan.
- Terlalu banyak definisi. Definisi konsep biasanya tidak perlu di pendahuluan, kecuali konsep itu baru atau dipakai dengan makna khusus.
- Metode dan hasil ikut dijelaskan rinci. Pendahuluan cukup berhenti pada tujuan. Rincian desain penelitian tempatnya di bagian metode.
Untuk kesalahan pertama, bandingkan dua kalimat pembuka berikut untuk penelitian rekaan yang sama.
- Terlalu umum. “Di era digital, teknologi berkembang sangat pesat dan memengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia usaha.”
- Lebih fokus. “Pencatatan keuangan yang tertib menjadi salah satu syarat bagi UMKM untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal (Nama, Tahun).”
Kalimat pertama bisa ditempelkan ke penelitian apa saja, sehingga tidak memberi informasi. Kalimat kedua langsung mengarahkan pembaca ke masalah yang akan diteliti.
Revisi pendahuluan setelah pembahasan selesai. Pendahuluan yang ditulis di awal sering tidak lagi cocok dengan temuan akhir. Membaca ulang dan menyesuaikannya adalah langkah sederhana yang sering terlewat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya pendahuluan dan tinjauan pustaka?
Pendahuluan memakai rujukan secara selektif untuk membangun argumen dari konteks menuju celah dan tujuan penelitian. Tinjauan pustaka memetakan dan menyintesis literatur lebih mendalam. Sebagian jurnal menggabungkan keduanya dalam satu bagian, sebagian lain memisahkannya, jadi ikuti pedoman jurnal sasaran.
Berapa panjang pendahuluan yang ideal?
Tidak ada angka baku. Panjangnya proporsional dengan batas panjang artikel yang ditetapkan jurnal. Patokan praktisnya adalah pendahuluan pada artikel terbaru di jurnal sasaran.
Bolehkah menulis bahwa topik saya belum pernah diteliti?
Boleh bila didukung penelusuran literatur yang memadai, tetapi klaim mutlak seperti itu berisiko. Lebih aman menyebut celah secara spesifik, misalnya pada konteks, metode, atau populasi tertentu, dan menulis sejauh penelusuran penulis.
Apakah rumusan masalah perlu ditulis bernomor seperti di skripsi?
Umumnya tidak. Artikel jurnal biasanya menyatakan tujuan atau pertanyaan penelitian di paragraf terakhir pendahuluan. Rumusan bernomor hanya dipakai bila pedoman atau kebiasaan jurnal sasaran memintanya.
Kapan sebaiknya pendahuluan ditulis?
Banyak penulis menyusun draf pendahuluan di awal untuk mengarahkan penelitian, lalu merevisinya setelah hasil dan pembahasan selesai. Revisi akhir ini penting agar tujuan dan kontribusi yang dijanjikan sesuai dengan temuan.
Tim Pelopor Publikasi siap mendampingi Anda merapikan alur argumen, memperkuat research gap, dan menyiapkan naskah sesuai jurnal sasaran.
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.





