Saat menyaring jurnal tujuan, Anda hampir selalu bertemu tiga angka yang disebut bersamaan, yaitu impact factor, SJR, dan H-index. Ketiganya sama-sama dipakai untuk menggambarkan pengaruh sebuah jurnal atau penulis, tetapi berasal dari lembaga yang berbeda, dihitung dengan cara yang berbeda, dan dibaca dengan cara yang berbeda pula. Salah membaca satu angka saja bisa membuat Anda memilih jurnal yang ternyata tidak memenuhi syarat penilaian.
Artikel ini membahas penerbit, cara hitung, dan jendela waktu setiap metrik, termasuk CiteScore dari Scopus, lalu kaitannya dengan aturan angka kredit dosen dan kesalahan yang paling sering terjadi saat membacanya.
Impact Factor diterbitkan Clarivate untuk jurnal di Web of Science dan memakai jendela sitasi dua tahun. SJR dihitung SCImago Lab dari data Scopus dengan menimbang bobot jurnal yang menyitasi, dan menjadi dasar kuartil Q1 sampai Q4 yang umum dipakai di Indonesia. H-index berarti ada h artikel yang masing-masing disitasi minimal h kali, berlaku untuk penulis maupun jurnal, dan nilainya berbeda di setiap basis data. Untuk angka kredit, status internasional bereputasi ditentukan antara lain oleh SJR di atas 0,1 atau IF di atas 0,05.
Kirimkan nama jurnal yang sedang Anda pertimbangkan. Tim kami membantu mengecek indeksasi, kuartil, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan angka kredit Anda.
Impact Factor, Metrik Klasik dari Clarivate
Impact Factor atau Journal Impact Factor adalah metrik yang diterbitkan Clarivate setiap tahun dalam Journal Citation Reports (JCR). Metrik ini hanya tersedia untuk jurnal yang tercakup di Web of Science. Artinya, jurnal yang hanya terindeks Scopus, SINTA, atau Google Scholar tidak memiliki Impact Factor resmi, sebaik apa pun reputasinya di bidangnya.
Cara hitungnya cukup sederhana. Ambil jumlah sitasi yang diterima jurnal pada tahun berjalan terhadap artikel yang terbit dalam dua tahun sebelumnya, lalu bagi dengan jumlah artikel yang terbit pada dua tahun itu. Sebagai ilustrasi dengan angka rekaan, bila sebuah jurnal menerbitkan 200 artikel dalam dua tahun dan artikel tersebut disitasi 300 kali pada tahun berjalan, nilai Impact Factor jurnal itu 1,5.
Jendela dua tahun membuat Impact Factor cepat bereaksi terhadap artikel yang langsung banyak dirujuk, tetapi kurang menguntungkan bidang yang sitasinya baru menumpuk beberapa tahun setelah artikel terbit, seperti sebagian bidang sosial dan humaniora. Karena itu, angka Impact Factor jurnal kedokteran tidak bisa disandingkan begitu saja dengan angka jurnal pendidikan atau hukum.
Nilai resminya hanya dapat dilihat di JCR, yang umumnya diakses melalui langganan institusi. Angka “impact factor” tanpa sumber yang jelas di situs jurnal patut dicurigai.
SJR, Metrik yang Menimbang Kualitas Sumber Sitasi
SJR atau SCImago Journal Rank dihitung oleh SCImago Lab menggunakan data dari Scopus, basis data abstrak dan sitasi milik Elsevier. Hasilnya bisa dilihat secara terbuka di scimagojr.com. Berbeda dengan Impact Factor yang memperlakukan semua sitasi sama, SJR memberi bobot pada setiap sitasi sesuai pengaruh jurnal yang menyitasinya.
Logikanya mirip rekomendasi. Satu sitasi dari jurnal yang sangat berpengaruh di bidangnya bernilai lebih besar daripada satu sitasi dari jurnal yang jarang dirujuk. Dengan cara ini, jurnal yang mengumpulkan banyak sitasi dari sumber lemah tidak otomatis mendapat SJR tinggi.
Dari SJR ke Kuartil Q1 sampai Q4
Kuartil yang biasa disebut dosen di Indonesia, yaitu Q1, Q2, Q3, dan Q4, mengacu pada peringkat SJR di scimagojr.com. Jurnal dalam satu kategori subjek diurutkan berdasarkan SJR, lalu dibagi menjadi empat kelompok. Seperempat teratas menjadi Q1, seperempat berikutnya Q2, dan seterusnya. Data ini diperbarui setiap tahun.
Karena kuartil ditentukan per kategori subjek, jurnal yang masuk beberapa kategori bisa memiliki kuartil berbeda di setiap kategori. Sebuah jurnal bisa berada di Q2 pada satu kategori dan Q3 pada kategori lain. Catat kategori dan tahun data yang Anda lihat, karena dua hal itu menentukan cara membaca kuartil.
CiteScore dan SNIP, Metrik Bawaan Scopus
Selain SJR, ekosistem Scopus punya metrik sendiri. CiteScore diterbitkan langsung oleh Scopus dan memakai jendela empat tahun, yaitu sitasi yang diterima dalam rentang empat tahun terhadap dokumen yang terbit dalam rentang yang sama, dibagi jumlah dokumen tersebut. Jendela yang lebih panjang membuat CiteScore lebih stabil dan lebih bersahabat bagi bidang yang sitasinya datang perlahan.
Ada juga SNIP (Source Normalized Impact per Paper) yang dirancang untuk mengoreksi perbedaan kebiasaan menyitasi antarbidang. Anda tidak perlu menghafal semua metrik ini. Yang penting, halaman profil jurnal di Scopus menampilkan peringkat berbasis CiteScore, sedangkan kuartil yang umum dipakai untuk penilaian di Indonesia mengacu pada SJR di scimagojr.com. Keduanya bisa menunjukkan posisi yang berbeda untuk jurnal yang sama.
H-Index untuk Penulis dan Jurnal
H-index diperkenalkan oleh Jorge Hirsch pada 2005. Definisinya, nilai h berarti ada h artikel yang masing-masing sudah disitasi minimal h kali. Penulis dengan H-index 6 memiliki enam artikel yang masing-masing disitasi paling sedikit enam kali, dan tidak memiliki tujuh artikel yang masing-masing disitasi minimal tujuh kali.
Cara menghitungnya mudah dipahami lewat contoh. Urutkan artikel dari yang paling banyak disitasi, lalu cari titik terakhir ketika jumlah sitasi masih sama dengan atau lebih besar dari nomor urutnya.
| Urutan artikel | Jumlah sitasi | Sitasi minimal sama dengan nomor urut? |
|---|---|---|
| 1 | 25 | Ya |
| 2 | 14 | Ya |
| 3 | 9 | Ya |
| 4 | 6 | Ya |
| 5 | 4 | Tidak |
| 6 | 2 | Tidak |
Angka rekaan untuk ilustrasi. Hasilnya H-index 4, karena artikel urutan kelima hanya disitasi 4 kali.
Artikel dengan 25 sitasi ternyata tidak membuat H-index melonjak. Nilai h hanya naik bila makin banyak artikel disitasi secara merata. Untuk jurnal, cara hitungnya sama, hanya saja yang diurutkan adalah artikel yang diterbitkan jurnal tersebut. H-index versi standar bersifat kumulatif, tanpa jendela waktu tetap seperti Impact Factor atau CiteScore, sehingga penulis atau jurnal yang lama aktif cenderung unggul.
Mengapa H-Index Anda Berbeda di Setiap Basis Data
H-index dihitung dari artikel dan sitasi yang tercatat di basis data tertentu. Google Scholar merekam sumber yang sangat beragam, termasuk prosiding, repositori, dan dokumen nonjurnal, sehingga angkanya biasanya paling tinggi. Scopus hanya menghitung dokumen dan sitasi dari sumber yang terindeks di dalamnya, sehingga angkanya cenderung lebih rendah. Profil SINTA pun menampilkan H-index menurut sumber datanya. Jadi, setiap kali mencantumkan H-index, sebutkan sumbernya, misalnya H-index Scopus atau H-index Google Scholar.
Ceritakan bidang naskah dan jenjang yang Anda tuju. Kami bantu memetakan jurnal yang metriknya sesuai syarat penilaian.
Perbandingan Impact Factor, SJR, dan H-Index dalam Satu Tabel
Tabel berikut merangkum perbedaan utama metrik yang paling sering Anda temui. Gunakan kolom terakhir sebagai pegangan saat membaca angka di situs jurnal maupun di basis data.
| Metrik | Penerbit | Basis data | Cara membaca |
|---|---|---|---|
| Impact Factor | Clarivate, dalam Journal Citation Reports | Web of Science | Rata-rata sitasi per artikel dengan jendela dua tahun. Bandingkan hanya dengan jurnal di bidang yang sama. |
| SJR | SCImago Lab | Scopus | Sitasi diberi bobot sesuai pengaruh jurnal penyitasi. Menjadi dasar kuartil Q1 sampai Q4 per kategori subjek di scimagojr.com. |
| CiteScore | Scopus (Elsevier) | Scopus | Rata-rata sitasi per dokumen dengan jendela empat tahun. Peringkatnya bisa berbeda dari kuartil SJR. |
| H-index penulis | Dihitung oleh tiap basis data | Scopus, Google Scholar, SINTA, dan lainnya | Kumulatif. Selalu sebutkan sumbernya karena nilainya berbeda di tiap basis data. |
| H-index jurnal | Ditampilkan beberapa layanan, misalnya scimagojr.com | Bergantung pada layanan | Mencerminkan umur dan konsistensi sitasi jurnal. Jurnal lama cenderung bernilai lebih tinggi. |
Ringkasan konsep. Nilai setiap jurnal selalu cek langsung di sumber resminya, bukan di situs jurnal.
Tidak ada satu metrik yang paling benar. Yang perlu Anda pastikan adalah metrik mana yang dipakai oleh aturan atau lembaga yang akan menilai publikasi Anda.
Kaitan Metrik dengan Angka Kredit dan Kenaikan Jabatan
Bagi dosen, metrik jurnal bukan sekadar gengsi. Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026 memakai SJR dan Impact Factor sebagai garis batas jurnal internasional bereputasi. Sebuah jurnal masuk kategori ini bila terindeks Scopus dengan SJR di atas 0,1 atau memiliki IF Web of Science di atas 0,05, memiliki ISSN, berbahasa resmi PBB, memiliki dewan editor pakar dari minimal empat negara, memuat artikel dari penulis minimal dua negara dalam satu nomor terbitan, dan dewan editornya dapat ditelusuri secara daring.
Nilai angka kredit (KUM) artikelnya juga mengikuti kuartil. Q1 bernilai 40, Q2 bernilai 38, Q3 bernilai 35, dan Q4 bernilai 33, dengan syarat SJR di atas 0,1 atau IF di atas 0,05 saat artikel terbit. Jurnal yang terindeks Scopus atau Web of Science tetapi nilai SJR paling tinggi 0,1 atau nilai IF paling tinggi 0,05 dihitung sebagai jurnal internasional dengan nilai 30.
Perhatikan frasa saat artikel terbit. Metrik berubah setiap tahun, jadi simpan tangkapan layar scimagojr.com yang memperlihatkan SJR dan kuartil jurnal pada tahun artikel Anda terbit.
| Jenjang tujuan | Opsi jurnal internasional bereputasi | Opsi jurnal nasional | Peran penulis |
|---|---|---|---|
| Lektor | Minimal Q4 dengan SJR di atas 0,1 | Terakreditasi minimal peringkat 4 | Penulis pertama |
| Lektor Kepala | Minimal Q3 dengan SJR di atas 0,2 | Terakreditasi minimal peringkat 2 | Penulis pertama sekaligus korespondensi |
| Profesor | Minimal Q2 dengan SJR di atas 0,25, ditambah satu publikasi lain (internasional bereputasi minimal Q3 dengan SJR di atas 0,2) | Hanya untuk publikasi tambahan, yaitu jurnal nasional peringkat 1 | Penulis pertama sekaligus korespondensi pada publikasi utama |
Sumber: syarat khusus dalam Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026.
Ada satu syarat lagi yang sering terlewat. Untuk syarat khusus kenaikan jabatan, status jurnal saat dinilai tidak boleh dibatalkan (cancelled) atau dihentikan cakupannya (coverage discontinued). Jadi, SJR yang bagus belum cukup bila status jurnalnya bermasalah. Untuk memahami cara memastikan status tersebut, baca juga pembahasan indeksasi jurnal dan cara mengecek statusnya.
Kesalahan Umum Saat Membaca Metrik Jurnal
Membandingkan Angka Antarbidang
Bidang dengan budaya sitasi tinggi, misalnya biomedis, wajar memiliki angka jauh lebih besar daripada pendidikan bahasa atau hukum. Jurnal pendidikan dengan SJR yang tampak kecil bisa saja menempati Q1 di kategorinya. Bandingkan kuartil dalam kategori yang sama, bukan angka mentah lintas bidang.
Percaya pada Metrik yang Dipajang di Situs Jurnal
Sebagian jurnal bermasalah memajang “impact factor” dari lembaga yang namanya mirip tetapi tidak ada hubungannya dengan Clarivate, atau menampilkan logo kuartil yang tidak sesuai data. Selalu cek dari arah sumber, yaitu Impact Factor di JCR, SJR dan kuartil di scimagojr.com, serta CiteScore di Scopus. Lakukan pencarian dengan ISSN, karena nama jurnal yang mirip sering menjebak. Panduan apa itu DOI dan ISSN serta cara mengecek keasliannya membantu Anda memastikan identitas jurnal sebelum membaca metriknya.
Mengira H-Index Sama di Semua Basis Data
Mencantumkan H-index Google Scholar pada formulir yang meminta H-index Scopus membuat Anda terlihat tidak cermat. Tulis angkanya beserta sumber dan tanggal pengambilan data.
Memakai Data Tahun yang Keliru
Jurnal yang hari ini berada di Q2 bisa saja dulu berada di Q3, atau sebaliknya. Saat menilai jurnal untuk naskah baru, lihat tren beberapa tahun terakhir. Saat menyusun berkas angka kredit, pakai data pada tahun artikel terbit.
Menganggap Metrik Tinggi Berarti Cocok untuk Naskah Anda
Metrik hanya menggambarkan pengaruh jurnal secara keseluruhan. Kecocokan ruang lingkup, jenis artikel yang diterima, dan kedalaman analisis tetap lebih menentukan peluang naskah Anda lolos review.
Metrik palsu sering menjadi pintu masuk jurnal predator. Angka yang tidak bisa Anda temukan di JCR, scimagojr.com, atau Scopus sebaiknya dianggap tidak ada. Jangan membayar biaya apa pun hanya karena tergiur angka yang dipajang di beranda jurnal.
Cara Praktis Memakai Metrik Saat Menyaring Jurnal
Agar metrik benar-benar membantu keputusan Anda, gunakan urutan pemeriksaan berikut setiap kali menilai jurnal kandidat.
- Pastikan identitas dan indeksasinya lebih dulu. Cocokkan nama dan ISSN jurnal di basis data yang diklaim sebelum melihat angka apa pun.
- Tentukan metrik yang relevan dengan tujuan Anda. Untuk angka kredit di Indonesia, fokus pada SJR dan kuartil di scimagojr.com, atau Impact Factor bila jurnalnya tercakup di Web of Science.
- Baca kuartil pada kategori yang paling dekat dengan naskah. Bila jurnal masuk beberapa kategori, catat kuartil di masing-masing kategori.
- Lihat trennya. Grafik di scimagojr.com memperlihatkan apakah SJR jurnal cenderung naik, stabil, atau turun dari tahun ke tahun.
- Periksa status cakupannya. Jurnal yang dihentikan cakupannya tidak bisa dipakai untuk syarat khusus, berapa pun nilai SJR sebelumnya.
- Arsipkan buktinya. Simpan tangkapan layar berisi nama jurnal, ISSN, kategori, kuartil, SJR, dan tanggal pengambilan data.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa beda Impact Factor dan SJR?
Impact Factor diterbitkan Clarivate untuk jurnal di Web of Science dan menghitung rata-rata sitasi dengan jendela dua tahun tanpa membedakan sumber sitasi. SJR dihitung SCImago Lab dari data Scopus dan memberi bobot lebih besar pada sitasi dari jurnal yang berpengaruh.
Apakah semua jurnal Scopus punya Impact Factor?
Tidak. Impact Factor hanya diberikan kepada jurnal yang tercakup di Web of Science. Jurnal yang hanya terindeks Scopus memakai SJR dan CiteScore sebagai metrik utamanya.
Kuartil Q1 sampai Q4 yang dipakai di Indonesia mengacu ke mana?
Kuartil yang umum dipakai mengacu pada peringkat SJR di scimagojr.com. Pembagiannya dilakukan per kategori subjek dan diperbarui setiap tahun, sehingga satu jurnal bisa memiliki kuartil berbeda di kategori yang berbeda.
Mengapa H-index di Google Scholar biasanya lebih tinggi daripada di Scopus?
Google Scholar merekam sumber yang lebih beragam, termasuk dokumen di luar jurnal terindeks, sedangkan Scopus hanya menghitung sitasi dari sumber yang terindeks di dalamnya. Karena itu, selalu sebutkan sumbernya setiap kali mencantumkan H-index.
Berapa SJR minimal agar jurnal dianggap internasional bereputasi?
Menurut Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, jurnal terindeks Scopus harus memiliki SJR di atas 0,1, atau jurnal Web of Science memiliki IF di atas 0,05, selain memenuhi kriteria lain seperti ISSN dan sebaran negara dewan editor. Untuk syarat khusus, publikasi utama Lektor memakai ambang SJR di atas 0,1, Lektor Kepala di atas 0,2, dan Profesor di atas 0,25.
Tim Pelopor Publikasi membantu Anda membaca metrik jurnal, menyaring pilihan yang sesuai bidang, dan menyiapkan naskah agar layak diajukan.
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.








