Apa Itu Scopus dan Bagaimana Database Ini Memilih Jurnal

Apa Itu Scopus dan Bagaimana Database Ini Memilih Jurnal

Comments
12 min read
Beranda » Apa Itu Scopus dan Bagaimana Database Ini Memilih Jurnal

Apa itu Scopus? Pertanyaan ini justru sering muncul setelah seseorang diminta “publikasi Scopus” oleh kampus atau pembimbingnya. Banyak yang mengira Scopus adalah sebuah jurnal besar, atau penerbit yang menerima kiriman naskah. Keduanya keliru, dan kekeliruan ini bisa membuat Anda salah memilih jurnal atau mudah percaya pada klaim yang tidak bisa dibuktikan.

Tulisan ini menjelaskan Scopus dari sisi konsep: apa yang disimpan di dalamnya, bagaimana sebuah jurnal bisa masuk, apa saja yang bisa Anda lihat sebagai penulis, metrik apa yang dipakai, serta apa arti kuartil Q1 sampai Q4 bagi angka kredit dosen.

Jawaban Singkat

Scopus adalah basis data abstrak dan sitasi milik Elsevier. Scopus tidak menerbitkan artikel, melainkan mencatat artikel dari jurnal berbagai penerbit yang sudah lolos evaluasi Content Selection and Advisory Board (CSAB). Kuartil Q1 sampai Q4 yang umum dipakai di Indonesia diambil dari SJR di scimagojr.com, dihitung per kategori subjek, dan diperbarui setiap tahun.

Ragu apakah jurnal incaran Anda benar terindeks Scopus?

Kirimkan nama atau ISSN jurnalnya. Tim Pelopor Publikasi membantu membaca status, kuartil, dan kecocokannya dengan target Anda.

Cek Jurnal Bersama Kami

Apa Itu Scopus dan Apa Isinya

Scopus adalah basis data abstrak dan sitasi yang dimiliki Elsevier. Kata kuncinya ada pada “abstrak dan sitasi”. Scopus mencatat informasi tentang sebuah artikel, yaitu judul, abstrak, nama penulis, afiliasi, kata kunci, dan daftar referensinya. Dari daftar referensi itulah Scopus bisa menghubungkan artikel yang mengutip dengan artikel yang dikutip.

Scopus tidak dirancang sebagai tempat membaca naskah lengkap. Ketika Anda menemukan sebuah artikel di Scopus, tautan naskah lengkapnya mengarah ke situs penerbit atau jurnal. Bisa tidaknya Anda membaca naskah itu bergantung pada kebijakan akses jurnal dan langganan institusi Anda.

Fitur penelusuran lengkap Scopus umumnya diakses lewat langganan institusi. Meski begitu, sebagian informasi dasar, seperti daftar sumber dan profil penulis, biasanya tetap bisa dilihat publik tanpa akun institusi.

Scopus, Web of Science, dan Google Scholar

Scopus sering disebut bersama dua nama lain. Web of Science adalah basis data sitasi milik Clarivate, dan dari basis data inilah Journal Impact Factor diterbitkan melalui Journal Citation Reports. Google Scholar bekerja dengan cara berbeda: mesin pencarinya menjaring dokumen ilmiah dari internet secara otomatis, tanpa proses seleksi jurnal seperti di Scopus. Karena itu, tercatat di Google Scholar tidak bisa disamakan dengan terindeks Scopus.

Dalam aturan angka kredit di Indonesia, Scopus dan Web of Science sama-sama diakui sebagai dasar status internasional bereputasi, dengan ambang yang berbeda, yaitu SJR di atas 0,1 untuk Scopus atau Impact Factor di atas 0,05 untuk Web of Science.

Scopus Bukan Penerbit dan Bukan Jurnal

Elsevier memang dikenal juga sebagai penerbit, tetapi Scopus sebagai basis data mencakup jurnal dari banyak penerbit lain: penerbit komersial, asosiasi profesi, lembaga riset, hingga universitas, termasuk jurnal yang dikelola di Indonesia. Karena itu, istilah yang tepat adalah “jurnal terindeks Scopus”, bukan “jurnal Scopus” dalam arti jurnal milik Scopus.

Konsekuensinya sangat praktis. Anda tidak pernah mengirim naskah ke Scopus. Anda mengirim naskah ke sebuah jurnal, jurnal itu menerbitkannya, lalu data artikel tersebut masuk ke Scopus karena jurnalnya sudah terindeks. Tawaran “memasukkan artikel ke Scopus” tanpa menyebut nama jurnal yang jelas patut Anda curigai.

Bagaimana Scopus Memilih Jurnal

Jurnal tidak masuk Scopus secara otomatis. Pengelola jurnal atau penerbit mengajukan jurnalnya, lalu jurnal tersebut dievaluasi oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB), yaitu dewan ahli yang menilai layak tidaknya sebuah jurnal dicakup Scopus.

Secara umum, evaluasi tersebut melihat beberapa hal berikut.

  • Kebijakan jurnal, termasuk proses peer review yang jelas, susunan dewan editor, dan cakupan bidang yang terdefinisi.
  • Mutu dan relevansi konten, yaitu apakah artikel yang terbit memberi kontribusi ilmiah dan sesuai dengan cakupan jurnal.
  • Keteraturan terbit, karena jurnal yang terbit tidak menentu sulit dipercaya sebagai sumber ilmiah.
  • Ketersediaan daring, misalnya situs jurnal yang mudah diakses serta informasi yang jelas bagi pembaca dari berbagai negara.

Masuk Scopus juga bukan status permanen. Jurnal yang sudah terindeks tetap bisa dievaluasi ulang, dan bila dinilai tidak lagi memenuhi standar, cakupannya bisa dihentikan. Gambaran umum tentang cara kerja pengindeks, termasuk bedanya pengindeks nasional dan internasional, bisa Anda baca di artikel tentang indeksasi jurnal.

Apa Artinya bagi Artikel Anda

Artikel Anda tercatat di Scopus karena jurnalnya terindeks, bukan karena artikel itu dinilai satu per satu oleh Scopus. Data artikel masuk setelah terbit, dan jeda pencatatannya bisa berbeda antarjurnal. Jadi bila artikel belum muncul di Scopus tidak lama setelah terbit, hal itu belum tentu menandakan masalah. Yang perlu Anda pastikan sejak awal adalah status jurnalnya masih aktif ketika artikel Anda terbit.

Apa yang Bisa Dilihat Penulis di Scopus

Daftar Sumber

Daftar sumber (sources) memuat jurnal dan terbitan lain yang dicakup Scopus. Dari sini Anda bisa melihat nama jurnal, ISSN, penerbit, bidang subjek, dan metrik seperti CiteScore. Untuk memverifikasi jurnal, gunakan ISSN, bukan sekadar nama, karena beberapa jurnal punya nama yang sangat mirip. Periksa juga apakah jurnal tersebut masih berstatus aktif.

Daftar sumber juga mencatat rentang tahun cakupan sebuah jurnal. Informasi ini berguna ketika Anda menilai artikel lama, karena artikel yang terbit sebelum jurnal tercakup tidak otomatis ikut terindeks.

Profil Penulis dan Scopus Author ID

Begitu artikel Anda terindeks, Scopus membuat profil penulis secara otomatis dan memberi Scopus Author ID, yaitu nomor pengenal unik untuk Anda di basis data tersebut. Profil ini memuat daftar dokumen, afiliasi, jumlah sitasi, dan H-index versi Scopus. Nomor ini juga sering diminta saat Anda mengisi berbagai formulir akademik.

Karena dibentuk otomatis, kadang muncul dua profil untuk satu orang, misalnya bila nama Anda ditulis berbeda di beberapa artikel atau afiliasi Anda berpindah. Scopus menyediakan jalur permintaan koreksi untuk menggabungkan profil atau membetulkan afiliasi. Cara mencegahnya sederhana: gunakan penulisan nama dan afiliasi yang konsisten di setiap artikel.

Sitasi dan Dokumen yang Mengutip

Untuk setiap artikel, Scopus menampilkan berapa kali artikel itu dikutip oleh dokumen lain yang juga tercatat di Scopus, lengkap dengan daftar dokumen pengutipnya. Angka ini sering lebih kecil daripada angka di Google Scholar karena Scopus hanya menghitung sitasi dari sumber yang dicakupnya. H-index Anda pun berbeda antarbasis data, jadi selalu sebutkan sumbernya saat mencantumkan angka tersebut.

Butuh bantuan membaca status dan metrik jurnal tujuan?

Kirimkan daftar jurnal yang sedang Anda timbang. Kami bantu mengecek status, kategori subjek, dan kuartilnya sebelum Anda memutuskan.

Konsultasi Gratis via WhatsApp

Metrik Jurnal di Scopus dan Cara Membacanya

Ada tiga metrik jurnal yang paling sering Anda temui ketika membahas Scopus. Ketiganya saling berkaitan, tetapi mengukur hal yang tidak identik.

Metrik Disusun oleh Gambaran sederhana Kegunaan bagi penulis
CiteScore Scopus (Elsevier) Rata-rata sitasi terhadap dokumen jurnal dalam jendela empat tahun Melihat seberapa sering jurnal dikutip dalam beberapa tahun terakhir
SJR (SCImago Journal Rank) SCImago Lab, dari data Scopus Sitasi yang diberi bobot sesuai bobot sumber yang mengutip Dasar kuartil Q1 sampai Q4 yang umum dipakai dalam penilaian di Indonesia
SNIP (Source Normalized Impact per Paper) Dihitung dari data Scopus Dampak sitasi yang disesuaikan dengan kebiasaan mengutip di bidangnya Membandingkan jurnal dari bidang dengan budaya sitasi yang berbeda

Nilai setiap metrik diperbarui berkala. Selalu cek nilai pada tahun yang relevan dengan waktu terbit artikel Anda.

Jangan membandingkan angka CiteScore jurnal pendidikan dengan jurnal kedokteran secara mentah. Bidang ilmu yang berbeda punya kebiasaan mengutip yang berbeda pula. Itulah sebabnya kuartil dihitung per kategori subjek, sehingga sebuah jurnal dibandingkan dengan jurnal sebidangnya.

Arti Kuartil Q1 sampai Q4 bagi Penulis

Kuartil membagi jurnal dalam satu kategori subjek menjadi empat kelompok berdasarkan nilai SJR. Q1 berisi seperempat jurnal dengan nilai tertinggi di kategori itu, sedangkan Q4 berisi seperempat jurnal dengan nilai terendah. Ada tiga hal yang perlu Anda pahami tentang kuartil.

  • Sumbernya scimagojr.com. Kuartil yang dipakai dalam penilaian di Indonesia umumnya merujuk SJR di situs SCImago, bukan angka yang dipasang sendiri oleh jurnal di berandanya.
  • Kuartil berlaku per kategori subjek. Satu jurnal yang masuk beberapa kategori bisa berada di Q2 pada satu kategori dan Q3 pada kategori lain. Pastikan Anda tahu kategori mana yang dirujuk penilai di kampus Anda.
  • Kuartil diperbarui setiap tahun. Jurnal yang tahun ini berada di Q2 bisa saja tahun berikutnya turun ke Q3, atau sebaliknya.

Bagi dosen, kuartil menentukan angka kredit. Menurut Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, artikel di jurnal internasional bereputasi bernilai 40 untuk Q1, 38 untuk Q2, 35 untuk Q3, dan 33 untuk Q4, dengan syarat SJR di atas 0,1 atau Impact Factor di atas 0,05 saat artikel terbit. Jurnal yang terindeks Scopus tetapi nilai SJR paling tinggi 0,1 dihitung sebagai jurnal internasional dengan nilai 30.

Selain angka SJR, status internasional bereputasi juga menuntut kriteria lain, antara lain dewan editor dari minimal 4 negara dan artikel dalam satu nomor terbitan yang ditulis penulis dari minimal 2 negara. Ambang SJR juga muncul lagi dalam syarat khusus Lektor, Lektor Kepala, dan Profesor. Perbandingan lengkapnya dengan jurnal nasional dibahas di artikel perbedaan SINTA dan Scopus untuk kenaikan jabatan.

Status Jurnal Scopus Bisa Berubah

Status terindeks Scopus bukan label seumur hidup. Scopus dapat menghentikan cakupan sebuah jurnal (discontinued) bila jurnal itu tidak lagi memenuhi standar evaluasinya. Untuk syarat khusus kenaikan jabatan, status jurnal saat dinilai tidak boleh dibatalkan (cancelled) atau dihentikan cakupannya.

Karena itu, biasakan mengecek status jurnal tepat sebelum mengirim naskah, lalu simpan bukti pengecekan beserta tanggalnya. Bila ada tanda yang janggal, misalnya cakupan bidang jurnal tiba-tiba melebar sangat luas, pertimbangkan kembali pilihan Anda.

Kebiasaan yang sama berlaku untuk kuartil. Simpan tangkapan layar kuartil dan nilai SJR jurnal pada tahun terbit artikel Anda, karena data itulah yang nanti dicocokkan dengan ketentuan angka kredit ketika berkas Anda dinilai.

Salah Kaprah Seputar Scopus

  • “Ada logo Scopus di situs jurnal, berarti terindeks.” Logo bisa dipasang siapa saja. Bukti yang sah adalah nama dan ISSN jurnal di daftar sumber Scopus dengan status aktif.
  • “Terindeks Scopus berarti selalu punya kuartil.” Tidak demikian. Jurnal yang baru terindeks bisa belum memiliki nilai SJR atau kuartil, dan jurnal dengan SJR paling tinggi 0,1 tidak masuk kategori internasional bereputasi untuk angka kredit.
  • “Kuartil menunjukkan mutu artikel saya.” Kuartil adalah ukuran jurnal, bukan artikel. Artikel di jurnal Q1 bisa jarang dikutip, dan artikel di jurnal Q4 bisa banyak dikutip.
  • “Situs yang namanya sama berarti jurnal yang sama.” Ada situs tiruan (hijacked journal) yang meniru nama dan tampilan jurnal terindeks. Cocokkan ISSN dan penerbitnya, lalu pastikan alamat situs memang berasal dari penerbit tersebut.

Memahami apa itu Scopus adalah fondasinya. Langkah berikutnya, seperti menentukan target kuartil, memilih jurnal yang cocok dengan topik, dan menyiapkan naskah, dibahas dalam panduan publikasi jurnal Scopus.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah Scopus itu penerbit jurnal?

Bukan. Scopus adalah basis data abstrak dan sitasi milik Elsevier. Scopus mencatat artikel dari jurnal berbagai penerbit yang sudah lolos evaluasi, sehingga Anda mengirim naskah ke jurnalnya, bukan ke Scopus.

Siapa yang menentukan sebuah jurnal masuk Scopus?

Jurnal yang diajukan dievaluasi oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB), yaitu dewan ahli yang menilai kelayakan jurnal untuk dicakup Scopus. Jurnal yang sudah terindeks juga bisa dievaluasi ulang dan dihentikan cakupannya.

Di mana saya bisa mengecek kuartil jurnal Scopus?

Kuartil Q1 sampai Q4 yang umum dipakai di Indonesia mengacu pada SJR di scimagojr.com. Kuartil dihitung per kategori subjek dan diperbarui setiap tahun, jadi perhatikan kategori dan tahunnya.

Apa itu Scopus Author ID?

Scopus Author ID adalah nomor pengenal unik yang diberikan Scopus kepada penulis setelah artikelnya terindeks. Profil yang terhubung dengan nomor ini memuat daftar dokumen, afiliasi, jumlah sitasi, dan H-index versi Scopus.

Apakah semua jurnal terindeks Scopus termasuk internasional bereputasi?

Tidak. Menurut Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, jurnal internasional bereputasi antara lain harus memiliki SJR di atas 0,1 saat artikel terbit. Jurnal terindeks Scopus dengan SJR paling tinggi 0,1 dihitung sebagai jurnal internasional dengan nilai angka kredit 30.

Apakah status jurnal di Scopus bisa berubah?

Bisa. Scopus dapat menghentikan cakupan jurnal yang tidak lagi memenuhi standar. Untuk syarat khusus kenaikan jabatan, status jurnal saat dinilai tidak boleh dibatalkan atau dihentikan cakupannya.

Ingin target Scopus Anda lebih terarah?

Pelopor Publikasi mendampingi Anda membaca status dan kuartil jurnal, memilih jurnal yang sesuai bidang, dan menyiapkan naskah sesuai pedoman jurnal tujuan.

Mulai Konsultasi

Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.

Share this article

About Author

Tim Pelopor Publikasi

Tim Editorial Pelopor Publikasi terdiri dari pendamping publikasi ilmiah yang membantu mahasiswa, dosen, dan peneliti mempersiapkan naskah untuk jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional bereputasi. Setiap artikel di blog ini disusun dari pengalaman pendampingan naskah lintas bidang dan penelusuran langsung ke sumber resmi seperti portal SINTA, Scopus, dan laman penerbit, lalu ditinjau sebelum terbit agar informasinya akurat. Untuk berdiskusi tentang kebutuhan publikasi Anda, gunakan tombol konsultasi yang tersedia di setiap artikel.

Most Relevent