Publikasi jurnal ilmiah adalah proses menerbitkan hasil penelitian dalam bentuk artikel di jurnal akademik yang melewati seleksi peer review sebelum benar-benar terbit. Bagi mahasiswa, proses ini sering muncul mendadak sebagai syarat kelulusan yang harus dipenuhi dalam hitungan bulan. Bagi dosen, ini adalah komponen utama angka kredit untuk kenaikan jabatan fungsional. Panduan ini menyusun seluruh peta besarnya dalam satu halaman: jalur yang tersedia, nilai angka kredit terbaru 2026, alur pengerjaan, estimasi biaya, hingga kesalahan yang paling sering membuat naskah ditolak.
Publikasi jurnal ilmiah adalah penerbitan artikel hasil penelitian di jurnal akademik yang terindeks, baik jurnal nasional terakreditasi SINTA 1–6 maupun jurnal internasional bereputasi seperti Scopus. Prosesnya menempuh tujuh tahap: penyiapan naskah, pemilihan jurnal, submit melalui OJS, desk review, peer review, revisi, lalu terbit. Waktu tempuhnya bervariasi dari beberapa minggu hingga lebih dari satu tahun, tergantung peringkat jurnal yang dituju.
Salah memilih peringkat jurnal di awal adalah penyebab paling umum naskah mondar-mandir berbulan-bulan tanpa hasil. Diskusikan naskah dan target waktu Anda dengan tim Pelopor Publikasi, gratis, sebelum Anda mengirimkannya ke mana pun.
Apa Itu Publikasi Jurnal Ilmiah dan Mengapa Wajib?
Jurnal ilmiah adalah terbitan berkala yang memuat artikel hasil penelitian dan telah melalui verifikasi akademik. Yang membedakannya dari media tulis lain adalah mekanisme peer review: naskah Anda dibaca dan dinilai oleh sesama ahli di bidang yang sama sebelum dinyatakan layak terbit. Mekanisme inilah yang membuat sebuah temuan dianggap sah secara akademik, bukan sekadar opini pribadi penulisnya.
Kewajiban publikasi jurnal ilmiah di Indonesia datang dari tiga arah yang berbeda, dan setiap arah punya standar peringkat jurnal yang berbeda pula:
- Mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Banyak program studi menetapkan artikel terpublikasi sebagai prasyarat sidang atau yudisium. Peringkat yang diminta umumnya jurnal nasional terakreditasi peringkat menengah ke bawah, dengan tenggat mengikuti kalender akademik — ini yang membuat faktor waktu jauh lebih menentukan daripada peringkat.
- Dosen dan peneliti. Publikasi menjadi sumber angka kredit untuk kenaikan jabatan akademik dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, sampai Profesor. Di sini peringkat jurnal sangat menentukan, karena setiap jenjang punya syarat khusus tersendiri.
- Kebutuhan institusi dan pendanaan. Rekam jejak publikasi memengaruhi peluang memperoleh hibah penelitian, membangun kolaborasi antar-kampus, dan penilaian kinerja program studi.
Konsekuensi praktisnya: pertanyaan pertama yang perlu Anda jawab bukan “bagaimana cara menulis artikel”, melainkan “untuk keperluan apa artikel ini, dan kapan tenggatnya”. Dua jawaban itu yang menentukan seluruh keputusan berikutnya.
Bagi mahasiswa: yang menentukan adalah waktu
Jika Anda mahasiswa yang dikejar tenggat sidang, urutan prioritasnya berbeda dari dosen. Peringkat jurnal tertinggi bukan target utama; yang utama adalah artikel benar-benar terbit sebelum batas administrasi kampus ditutup. Kesalahan yang paling merugikan pada kelompok ini adalah membidik jurnal berperingkat tinggi dengan antrean review panjang, lalu kehabisan waktu di tengah jalan dan terpaksa mengulang seluruh proses dari nol di jurnal lain.
Langkah yang lebih aman: pastikan dulu apa yang sebenarnya diminta program studi Anda. Sebagian menuntut artikel sudah tayang, sebagian menerima surat penerimaan sebagai bukti sementara, dan sebagian lagi menetapkan peringkat minimal tertentu. Ketiganya menghasilkan strategi yang berbeda. Tanyakan ke koordinator program studi sebelum menulis satu kata pun, bukan setelah naskah jadi.
Bagi dosen: yang menentukan adalah peringkat dan posisi kepenulisan
Pada dosen, perhitungannya lebih rumit karena menyangkut angka kredit dan syarat khusus jenjang jabatan. Satu artikel bisa bernilai besar atau kecil tergantung peringkat jurnal, jumlah penulis, dan posisi Anda di antara mereka. Karena itu perencanaan sebaiknya dimulai dari jenjang yang Anda tuju, lalu dihitung mundur: berapa angka kredit yang kurang, dari kegiatan apa saja bisa dipenuhi, dan publikasi seperti apa yang paling efisien menutup selisih tersebut.
Perlu diingat bahwa tidak semua publikasi yang bernilai angka kredit otomatis sah dipakai sebagai syarat khusus. Aturan yang berlaku membedakan tegas keduanya, dan perbedaan inilah yang paling sering menunda usulan kenaikan jabatan. Rinciannya dibahas pada bagian angka kredit di bawah.
Dua Jalur Utama: Jurnal Nasional SINTA dan Jurnal Internasional Scopus
Secara umum ada dua jalur besar yang bisa Anda tempuh. Keduanya sah, keduanya diakui, dan pilihan di antaranya sepenuhnya bergantung pada kebutuhan serta waktu yang Anda punya — bukan pada mana yang “lebih bagus” secara mutlak.
Jalur nasional bermuara pada SINTA, sistem pemeringkatan jurnal nasional terakreditasi yang dikelola kementerian, dengan peringkat SINTA 1 (tertinggi) sampai SINTA 6. Naskah umumnya boleh berbahasa Indonesia, biaya relatif lebih terjangkau, dan waktu prosesnya lebih pendek. Jalur internasional bermuara pada basis data seperti Scopus dan Web of Science, dengan pembagian kuartil Q1 sampai Q4. Naskah wajib berbahasa asing resmi, standar metodologinya lebih ketat, dan proses reviunya jauh lebih panjang.
| Aspek | Jurnal Nasional (SINTA 1–6) | Jurnal Internasional (Scopus Q1–Q4) |
|---|---|---|
| Pengelola indeks | Kementerian, melalui akreditasi ARJUNA | Elsevier (Scopus) dan Clarivate (WoS) |
| Bahasa naskah | Indonesia atau Inggris | Bahasa resmi PBB, umumnya Inggris |
| Umum dipakai untuk | Syarat lulus, kenaikan jenjang awal | Syarat khusus jenjang atas, reputasi global |
| Rentang waktu proses | Beberapa minggu sampai beberapa bulan | Umumnya beberapa bulan sampai lebih dari setahun |
| Struktur biaya | Sebagian gratis, sebagian menarik biaya penerbitan | APC penerbit, umumnya dalam mata uang asing |
Pembahasan mendalam masing-masing jalur ada di halaman terpisah: panduan publikasi jurnal SINTA untuk jalur nasional, dan panduan publikasi jurnal Scopus untuk jalur internasional. Jika Anda masih pada tahap mencari nama jurnal yang sesuai bidang, mulailah dari daftar jurnal terakreditasi dan terindeks.
Nilai Angka Kredit Publikasi Menurut Aturan 2026
Bagian ini khusus relevan bagi dosen. Acuan yang berlaku saat ini adalah Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, petunjuk teknis dari Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025. Perlu diperhatikan bahwa banyak artikel yang beredar di internet masih mengutip angka dari pedoman lama, sehingga selisihnya bisa menyesatkan saat Anda menyusun rencana kenaikan jabatan.
| Jenis Publikasi | Angka Kredit Maksimal |
|---|---|
| Jurnal internasional bereputasi, kuartil tertinggi | 40 |
| Jurnal internasional bereputasi Q2 | 38 |
| Jurnal internasional bereputasi Q3 | 35 |
| Jurnal nasional terakreditasi peringkat 1 | 25 |
| Jurnal nasional terakreditasi peringkat 3 | 20 |
| Prosiding internasional terindeks | 20 |
Angka di atas mengacu pada contoh perhitungan resmi dalam materi sosialisasi Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026 dari Direktorat Sumber Daya, Ditjen Pendidikan Tinggi. Rincian lengkap ada pada Tabel 2 juknis tersebut. Selalu konfirmasi versi terbaru ke LLDIKTI wilayah atau bagian kepegawaian kampus Anda.
Angka kredit itu dibagi, bukan diterima utuh
Inilah bagian yang paling sering terlewat dan paling sering membuat perhitungan seorang dosen meleset. Angka pada tabel di atas adalah angka kredit maksimal, dan yang benar-benar masuk ke rekening Anda bergantung pada posisi Anda di antara para penulis:
- Dua penulis. Bila penulis pertama sekaligus penulis korespondensi, ia memperoleh 60 persen dan penulis kedua 40 persen. Bila penulis pertama bukan penulis korespondensi, keduanya memperoleh 50 persen.
- Tiga penulis atau lebih. Penulis pertama sekaligus korespondensi memperoleh 60 persen, sisanya 40 persen dibagi rata untuk penulis anggota. Bila penulis pertama bukan korespondensi, penulis pertama memperoleh 40 persen, penulis korespondensi 40 persen, dan penulis anggota berbagi 20 persen secara merata.
Artinya, satu artikel di jurnal Q2 sebagai penulis anggota dari lima orang menghasilkan angka yang jauh berbeda dibanding artikel di jurnal peringkat SINTA 1 sebagai penulis pertama sekaligus korespondensi. Menyusun posisi kepenulisan sejak awal riset sering kali lebih menentukan daripada mengejar kuartil setinggi mungkin.
Proporsi penelitian per jenjang
Selain akumulasi angka, ada persentase minimal yang harus berasal dari kegiatan penelitian: 35 persen untuk kenaikan dari Asisten Ahli ke Lektor, 40 persen dari Lektor ke Lektor Kepala, dan 45 persen dari Lektor Kepala ke Profesor. Persentase ini dihitung dari selisih kebutuhan angka kredit antara jenjang saat ini dan jenjang yang dituju.
Catatan penting bagi lulusan S2 dan S3. Artikel yang merupakan sintesis atau pengembangan dari tesis maupun disertasi selama masa studi tetap dinilai angka kreditnya, tetapi tidak dapat digunakan untuk memenuhi syarat khusus kenaikan jabatan. Perbedaan antara “bernilai angka kredit” dan “memenuhi syarat khusus” inilah yang kerap menunda usulan jabatan akademik.
Alur Publikasi Jurnal Ilmiah: Tujuh Tahap dari Naskah sampai Terbit
Terlepas dari peringkat jurnal yang Anda tuju, alurnya relatif seragam. Yang berbeda hanyalah tingkat kedalaman pemeriksaan di setiap tahap.
Tahap 1 — Menyiapkan naskah. Naskah disusun mengikuti struktur ilmiah baku: pendahuluan yang memuat kesenjangan penelitian, metode yang dapat direplikasi, hasil, pembahasan, dan simpulan. Pada tahap ini kebaruan atau novelty harus sudah jelas, karena inilah yang pertama dicari reviewer.
Tahap 2 — Memilih jurnal tujuan. Bacalah bagian focus and scope jurnal serta beberapa terbitan terakhirnya. Ketidaksesuaian ruang lingkup adalah penyebab penolakan yang paling cepat datang, dan penolakan semacam ini biasanya tiba tanpa masukan apa pun yang bisa Anda pakai untuk memperbaiki naskah.
Tahap 3 — Menyesuaikan template. Setiap jurnal memiliki gaya selingkung sendiri: format sitasi, susunan bagian, batas jumlah kata, hingga tata letak tabel. Naskah yang tidak mengikuti template sering dikembalikan sebelum dibaca isinya.
Tahap 4 — Submit melalui OJS. Sebagian besar jurnal Indonesia menggunakan Open Journal Systems. Anda mendaftar sebagai penulis, mengunggah berkas, lalu mengisi metadata berupa judul, abstrak, kata kunci, dan data seluruh penulis. Kesalahan metadata di tahap ini akan terbawa sampai artikel terbit.
Tahap 5 — Desk review. Editor memeriksa kesesuaian ruang lingkup, kelengkapan administratif, dan tingkat kemiripan naskah. Banyak naskah berhenti di titik ini, dan biasanya bukan karena kualitas risetnya, melainkan karena hal-hal administratif yang sebenarnya bisa dicegah.
Tahap 6 — Peer review dan revisi. Naskah dikirim ke mitra bestari. Hasilnya bisa berupa diterima, diterima dengan revisi kecil, revisi besar, atau ditolak. Putaran revisi bisa terjadi lebih dari sekali, dan tahap inilah yang paling banyak memakan waktu.
Tahap 7 — Penerimaan dan penerbitan. Setelah dinyatakan diterima, Anda menerima surat penerimaan atau LOA, lalu naskah masuk antrean penyuntingan dan tata letak sebelum benar-benar terbit dan memperoleh nomor DOI. Perlu dicatat bahwa LOA bukanlah bukti artikel sudah terbit, melainkan pernyataan bahwa naskah telah lolos review.
Kendala di tiap tahap butuh penanganan berbeda. Naskah yang tertahan di desk review perlu perbaikan administratif; naskah yang mendapat revisi besar butuh strategi menjawab reviewer. Ceritakan posisi naskah Anda, tim kami bantu petakan langkah berikutnya.
Cara Memilih Jurnal yang Tepat Sebelum Submit
Memilih jurnal adalah keputusan yang dampaknya paling besar terhadap keseluruhan proses, namun paling sering dilakukan terburu-buru. Enam saringan berikut bisa Anda jalankan dalam waktu kurang dari satu jam per kandidat jurnal.
Saringan pertama, kesesuaian ruang lingkup. Buka bagian focus and scope, lalu telusuri daftar isi dua sampai tiga terbitan terakhir. Jika tidak ada satu pun artikel yang temanya berdekatan dengan naskah Anda, kemungkinan besar naskah Anda akan ditolak di meja editor sebelum sampai ke reviewer.
Saringan kedua, status indeksasi yang bisa diverifikasi. Jangan berhenti pada klaim yang tertulis di situs jurnal. Untuk jurnal nasional, periksa langsung profilnya di portal SINTA. Untuk jurnal internasional, periksa daftar resmi penerbit basis data terkait. Klaim yang tidak dapat dikonfirmasi dari sumber resmi sebaiknya dianggap tidak ada.
Saringan ketiga, keteraturan terbit. Jurnal yang sehat terbit secara berkala sesuai jadwal yang diumumkan. Nomor terbitan yang bolong-bolong atau terlambat berbulan-bulan adalah tanda pengelolaan yang bermasalah, dan artikel Anda berisiko ikut tertahan di antrean tanpa kepastian.
Saringan keempat, kejelasan dewan editor dan mitra bestari. Nama-nama pengelola seharusnya dapat ditelusuri afiliasinya. Jurnal yang menyembunyikan identitas pengelola, atau mencantumkan nama tanpa jejak akademik yang bisa diperiksa, layak Anda tinggalkan.
Saringan kelima, transparansi biaya dan proses. Informasi mengenai ada tidaknya biaya penerbitan, besarannya, dan tahapan review seharusnya tersedia terbuka. Permintaan pembayaran di muka dengan alasan mempercepat proses review adalah tanda bahaya yang jelas.
Saringan keenam, kesesuaian waktu dengan tenggat Anda. Perkirakan lama proses dari informasi yang tersedia, lalu bandingkan dengan tenggat Anda. Jurnal terbaik sekalipun tidak berguna jika artikel baru terbit tiga bulan setelah batas pengajuan Anda lewat.
Menyiapkan Naskah agar Lolos Pemeriksaan Awal
Sebagian besar naskah yang gugur tidak sampai dibaca reviewer. Mereka berhenti di pemeriksaan awal oleh editor karena persoalan yang sebenarnya bisa dicegah. Struktur baku yang berlaku hampir universal adalah IMRAD, yaitu pendahuluan, metode, hasil, dan pembahasan, ditambah abstrak serta daftar pustaka.
Abstrak perlu berdiri sendiri sebagai ringkasan utuh: latar masalah, tujuan, metode, temuan utama, dan implikasinya. Inilah bagian yang dibaca paling banyak orang dan sering menjadi dasar penilaian pertama editor. Pendahuluan berfungsi menunjukkan kesenjangan penelitian, bukan menumpuk teori. Susunlah dari konteks umum, menyempit ke persoalan spesifik, lalu tutup dengan tujuan penelitian yang menjawab kesenjangan tersebut.
Metode harus cukup rinci sehingga peneliti lain bisa mengulang prosedur Anda: populasi dan sampel, instrumen, cara pengumpulan data, dan teknik analisis. Kekurangan detail di bagian ini adalah alasan revisi besar yang paling sering muncul. Hasil menyajikan temuan apa adanya melalui tabel atau grafik, tanpa interpretasi. Pembahasan baru menafsirkan temuan tersebut dan mengaitkannya dengan penelitian terdahulu, termasuk menjelaskan bila hasil Anda berbeda dari penelitian sebelumnya.
Sebelum menekan tombol submit, jalankan pemeriksaan berikut satu per satu:
- Format naskah sudah mengikuti template resmi jurnal tujuan, termasuk gaya sitasi dan susunan bagian.
- Jumlah kata berada dalam batas yang ditetapkan jurnal.
- Seluruh sitasi dalam teks muncul di daftar pustaka, dan sebaliknya.
- Tingkat kemiripan naskah sudah diperiksa dan berada pada batas yang wajar menurut ketentuan jurnal.
- Nama, urutan, dan afiliasi seluruh penulis sudah disepakati bersama sebelum submit, termasuk siapa yang bertindak sebagai penulis korespondensi.
- Tabel dan gambar disajikan dalam format yang diminta, dengan keterangan dan penomoran yang lengkap.
- Metadata yang akan diisi di sistem sudah disiapkan terpisah agar tidak ada kesalahan ketik saat pengisian.
Butir kelima layak digarisbawahi. Perubahan susunan penulis setelah naskah masuk ke sistem umumnya memerlukan persetujuan tertulis seluruh penulis dan tidak selalu dikabulkan editor. Bagi dosen, susunan ini berdampak langsung pada besaran angka kredit yang diterima, sehingga menyepakatinya di awal jauh lebih baik daripada menegosiasikannya belakangan.
Biaya Publikasi Jurnal Ilmiah: Komponen yang Perlu Dianggarkan
Tidak semua jurnal memungut biaya. Sebagian jurnal kampus menerbitkan artikel tanpa pungutan, sementara sebagian lain menerapkan biaya penerbitan untuk menutup ongkos pengelolaan. Yang perlu Anda pahami adalah bahwa biaya bisa datang dari beberapa komponen berbeda:
- Biaya penerbitan atau APC. Dibayarkan kepada jurnal atau penerbit. Pada jurnal internasional bereputasi, angkanya dalam mata uang asing dan rentangnya sangat lebar antar-penerbit.
- Biaya penunjang naskah. Meliputi penerjemahan, penyuntingan bahasa, atau pemeriksaan kemiripan. Sering luput dari perhitungan awal padahal hampir selalu dibutuhkan pada jalur internasional.
- Biaya pendampingan. Bila Anda menggunakan jasa pendampingan, biaya ini terpisah dari biaya jurnal dan sebaiknya dirinci sejak awal agar tidak tercampur.
Tarif jurnal dapat berubah sewaktu-waktu dan biaya jurnal terpisah dari biaya pendampingan. Rincian per tier beserta pembandingnya dibahas tuntas di halaman biaya publikasi jurnal ilmiah.
Berapa Lama Prosesnya?
Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua kasus, dan siapa pun yang menjanjikan durasi pasti sebaiknya Anda ragukan. Lama proses ditentukan oleh peringkat jurnal, antrean naskah di redaksi, ketersediaan mitra bestari di bidang Anda, serta kecepatan Anda sendiri merespons permintaan revisi.
Sebagai gambaran umum: jurnal nasional peringkat menengah ke bawah biasanya bergerak dalam hitungan minggu sampai beberapa bulan, sementara jurnal internasional bereputasi umumnya menempuh beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun. Karena itu, mahasiswa dengan tenggat sidang dan dosen dengan periode pengajuan jabatan sebaiknya menghitung mundur dari tanggal tenggat, bukan dari tanggal naskah selesai ditulis.
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Publikasi Jurnal Ilmiah
Dari pola yang berulang, empat hal berikut paling sering membuat proses tersendat:
- Mengirim ke jurnal yang tidak sesuai ruang lingkup. Naskah bagus pun akan ditolak bila bidangnya tidak cocok, dan Anda kehilangan waktu berminggu-minggu tanpa memperoleh masukan apa pun.
- Mengirim satu naskah ke beberapa jurnal sekaligus. Praktik ini melanggar etika publikasi dan berisiko membuat nama Anda tercatat buruk di kalangan editor.
- Mengabaikan tingkat kemiripan naskah. Persentase kemiripan yang tinggi umumnya berasal dari cara mengutip dan menyusun kalimat yang belum tepat. Solusinya adalah memperbaiki cara penulisan, bukan mencari jalan pintas untuk menyiasati sistem pemeriksaan.
- Terjebak jurnal predator. Ciri yang paling mudah dikenali adalah janji terbit sangat cepat tanpa proses review yang jelas, permintaan pembayaran di muka untuk mempercepat, klaim indeksasi yang tidak bisa diverifikasi, dan nama jurnal yang mirip jurnal ternama dengan sedikit modifikasi. Artikel yang terbit di jurnal semacam ini berisiko tidak diakui untuk keperluan akademik.
Cara paling aman menghindari keempatnya adalah memverifikasi status jurnal langsung dari sumber resmi. Konsep indeksasi dan cara membaca reputasi jurnal dijelaskan lengkap di halaman indeksasi dan reputasi jurnal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah mahasiswa S1 boleh publikasi di jurnal ilmiah?
Boleh. Tidak ada pembatasan jenjang pendidikan untuk menjadi penulis artikel jurnal. Mahasiswa sarjana umumnya memulai dari jurnal nasional terakreditasi peringkat menengah ke bawah, sering kali dengan dosen pembimbing sebagai salah satu penulis.
Apa bedanya LOA dengan artikel yang sudah terbit?
LOA atau letter of acceptance adalah surat yang menyatakan naskah Anda telah lolos review dan diterima untuk diterbitkan. Artikel baru dianggap terbit ketika sudah tayang pada nomor terbitan jurnal, lengkap dengan halaman dan biasanya nomor DOI. Sebagian institusi menerima LOA sebagai bukti sementara, sebagian lain menuntut artikel yang benar-benar sudah tayang.
Apakah publikasi jurnal ilmiah selalu berbayar?
Tidak selalu. Ada jurnal yang menerbitkan artikel tanpa memungut biaya, ada pula yang menerapkan biaya penerbitan. Yang perlu diwaspadai bukan ada atau tidaknya biaya, melainkan kejelasan proses reviunya. Jurnal yang meminta pembayaran di muka dengan iming-iming mempercepat review patut Anda curigai.
Berapa nilai angka kredit publikasi di jurnal SINTA?
Mengacu contoh perhitungan resmi Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026, jurnal nasional terakreditasi peringkat 1 bernilai maksimal 25 angka kredit dan peringkat 3 bernilai maksimal 20 angka kredit. Angka tersebut adalah nilai maksimal, sedangkan yang Anda terima bergantung pada posisi kepenulisan.
Bisakah artikel dari skripsi atau tesis dipublikasikan?
Bisa, dan ini praktik yang lazim. Naskahnya perlu diringkas dan disusun ulang mengikuti format artikel jurnal, bukan disalin dalam bentuk bab. Khusus bagi dosen, artikel hasil sintesis tesis atau disertasi selama masa studi tetap bernilai angka kredit, tetapi tidak dapat dipakai memenuhi syarat khusus kenaikan jabatan.
Proses publikasi jurnal ilmiah paling sering tersendat bukan karena kualitas riset, melainkan karena keputusan teknis di awal: salah memilih peringkat jurnal, ruang lingkup yang tidak cocok, atau tenggat yang tidak realistis dengan antrean review. Pelopor Publikasi mendampingi Anda dari pemilihan jurnal yang sesuai bidang dan tenggat, penyesuaian naskah dengan gaya selingkung, hingga pemantauan proses sampai artikel terbit.
Konsultasikan Kebutuhan Publikasi Anda
Konsultasi awal tanpa biaya. Keputusan akhir penerimaan naskah tetap berada pada editor dan reviewer jurnal.





